cerpen

                   KEHIDUPAN

 20082012(007)

Disebuah desa terdapat rumah yang sederhana yang dihuni oleh sepasang suami istri yang di karuniai 3 orang anak, 2 perempuan dan 1 laki-laki. Sejak awal mula keluarga itu sangatlah bahagia , walaupun hidup serba pas-pasan mereka tak pernah mengeluh sedikitpun. Ketika anak laki-laki satu-satunya ingin bersekolah di pondok pesantren, maka ibu dan bapaknya segera menyetujuinya, akhirnya berangkatlah si arul ke pondok. Arul hidayat, itulah namanya, hari demi hari dia jalani hidup dalam pesantren yang sederhana. Karena pesantren jauh dari rumahnya Arul jarang pulang untuk melihat orang tuanya. Kini orang tuanya sangatlah merindukan kedatangan si Arul anak yang di damba-dambakan bisa menjadi tulang punggung keluarga. Bertahun-tahun telah berlalu si Arul akhirnya bisa menyelesaikan pendidikannya.  Sesampai di rumah betapa terkejutnya dia, ternyata selama kepergianya kehidupan keluarganya begitu menyedihkan, ayah ibunya yang sudah tua renta bekerja siang dan malam tidak kenal lelah demi untuk menyekolahkannya. Arul menanggis dalam pelukan ibunya, dia merasa bersalah, sambil berkata ; ibu maafkan Arul yang selama ini tidak pernah tahu keadaan ibu, bapak dan adik-adik ku. Dalam keheningan malam, Arul tak dapat pejamkan mata, kini ke dua adiknya sudah tak ada biaya untuk sekolah, hidupnya yang pas-pasan membuat dia berniat untuk merantau. Berhari-hari pikiran Arul kalut mau bicara takut ibu bapaknya tidak menyetujui rencananya itu. Tiada jalan lain si Arul membulatkan tekat untuk mencoba merantau seperti tetangganya, rumahnya bagus, pulang membawa uang banyak, rasa iri itu mulai menyelimuti pikirannya. Pada suatu malam si Arul meberanikan  diri untuk mengutarakan maksud hatinya kepada orang tuanya, dengan berat hati kedua orang tuanyapun merestui. Ke esokkan harinya berangkatlah Arul ke negri seberang, dengan berbekal ilmu yang dia punya, dia pikir hidup di negri seberang semudah yang dia bayangkan. Hidup di negri orang sangatlah susah, hari demi hari dia berusaha mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan nya. Dalam kelelahan dia duduk disebuah café sambil menikmati makanan yang telah di pesan, ada seseorang yang memperhatikan tingkah lakunya. Setelah lama memandang rasanya pemuda itu mengenalnya lalu dia mendekati si Arul.  Hai Arul !,  tegur pemuda itu. Arul pun tersentak kaget, dengan mendonggak Arul memandang pemuda itu, agak lupa-lupa ingat Arul membalasnya. Hai juga, rasanya kita pernah kenal ya, tapi dimana ya? Lupakah kamu Rul aku Tomy tetangga desamu, jawab pemuda itu. Oh iya’ jawab si Arul sambil berjabat tangan.

Tomy kamu sudah lama tidak pulang kampung, Tanya si Arul .

Iya; jawab si Tomy. setelah cerita demi cerita akhirnya si Arul menceritakan maksud kedatangannya ke negri jiran itu. Tomy menawari kerja sebagai kuli bangunan, tanpa berfikir panjang, Arul menyetujui tawaran Tomy. Keesokkan harinya Arul mulai kerja sebagai kuli bangunan pertama kalinya di Negara orang. Hari berganti minggu, berganti bulan, genap sudah 12 bulan dia merantau. tak ada kendala apapun. Suatu malam di tengah lelapnya tidur, Arul dan kawan- kawan nya di kejutkan dengan suara tembakkan peringatan.

Jangan lari! Terdengar teriakkan di luar sana, ternyata malam itu ada razia besar-besaran. Pekerja tanpa document semua tertangkap termasuk dia dan Tomy. karena passport dan visa dia adalah visa kunjung. Dalam proses tindak pidana dia dan kawan-kawannya  di hukum 3 bulan penjara. Setelah 3 bulan semua di pulangkan ke tanah air, tapi ternyata sebelum sampai daratan semuanya di suruh turun di pinggiran laut di tepi hutan belantara. Semua berenang untuk menyelamatkan dirinya masing-masing, dengan susah payah akhirnya semua selamat sampai ke tepi, masuk ke hutan belantara. 25 orang hidup dalam hutan belantara yang sangat menakutkan, menyeramkan, berhari- hari hidup di hutan, makan apa adanya yang di temui di hutan itu sambil berjalan terus menerus menyusuri lembah ngarai dan sungai-sungai. Hamper 1 bulan hidup menyusuri hutan akhirnya menemukan perkampungan. Dengan hati gembira akhirnya mereka berpisah, si Tomy bermaksud pulang kampong, sedangkan si Arul belum mau pulang karena dia belum berhasil, belum punya modal. Arul berpesan pada Tomy jangan sampai menceritakan hal ini pada keluarganya. Tomypun menyetujuinya karena Arul masih ingin kembali ke Negara itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s