sejarah

DINASTI SAUD TRAH YAHUDI PAHAM WAHABI

Sikap apatis Negara-negara Arab seperti Mesir, Yordania, khususnya Arab Saudi,mengundang Kecurigaan umat Islam. Bagimana mungkin mereka bungkam menyaksikan pembantaian saudara Muslim yang berlangsung di depan matanya,dilakukan oleh musuh abadi zionis Israel la‘natullah? 1. Dari manakah asal Dinasti Saud? Bagaimanakah runut garis genealoginya? Benarkah mereka berasal dari trah Anza BinWael?

2. Benarkah mereka sejak awal sudah memeluk Islam?

3. Benarkah mereka keturunan Arab asli?

4. Benarkan mereka Pengikut Wahabi ??

PENELITIAN MOHAMMAD SHAKHER

Penelitian dan Penelusuran Mohammad Shakher, yang akhirnya dibunuh oleh rezim Saudi karena temuannya yang menggemparkan, agaknyamenuntun kita menemukan jawabnya.

Shakher menulis buku berjudul

„Ali Saud min Aina wa Ila Aina?‟ membongkar apa di balik Bungkamnya penguasa Khadimul Haramaian setiapkali berhadapan dengan konflik Palestina-Israel.

Buku ini juga menemukan fakta baru, mengenai asal muasal Dinasti Saudi. Bagaimanakah runut garis genealoginya? Benarkah mereka berasal dari trah Anza BinWael, keturunan Yahudi militan?

Informasi buku ini mencekam sekaligus mencengangkan. Sulit dipercaya, sebuah dinasti yang bernaung di bawah kerajaan Islam Saudiyah bisa melakukan kebiadaban iblis dengan melakukan pembakaran masjid sekaligus membunuh jamaah shalat yang berada di dalamnya.

Jika isi buku yang terbit 3 Rabi‟ul Awal 1401 H (1981 M) ini „terpaksa‟ dipercaya, karena faktanya yang jelas, maka kejahatan Kerajaan Saudi Arabia terhadap kabilah Arab dahulu, persis seperti kebuasan zionis Israel membantai rakyatMuslim di Jalur Gaza.

Melacak Asal Dinasti Saudi

Dalam silsilah resmi kerajaan Saudi Arabia disebutkan, bahwa Dinasti Saudi Arabia bermula sejak abad ke dua belas Hijriyah atau abad ke delapan belas Masehi. Ketika itu, di jantung Jazirah Arabia, tepatnya di wilayah

Najd yang secara historis sangat terkenal, lahirlah Negara Saudi yang pertama yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Saud di “Ad-Dir‟iyah‖, terletak di sebelah barat laut kota Riyadh pada tahun 1175 H./1744M., dan meliputi hampir sebagian besar wilayah Jazirah Arabia.

Negara ini mengaku memikul tanggung jawab dakwah menuju kemurnian Tauhid kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala, mencegah prilaku bid‘ah dan khurafat, kembali kepada ajaran para Salafus Shalih dan berpegang teguh kepada dasar-dasar agama Islam yang lurus. Periode awal Negara Saudi Arabia ini berakhir pada tahun 1233 H./1818 M.

Periode kedua dimulai ketika

Imam Faisal bin Turki mendirikan Negara Saudi kedua pada tahun 1240 H./1824 M.Periode ini berlangsung hingga tahun 1309 H/1891 M. Pada tahun 1319 H/1902 M, Raja Abdul Aziz berhasil mengembalikan kejayaan kerajaan para pendahulunya, Imam Muhammad bin Saud di ―Ad-Dir‘iyah(Dinasti pertama). ketika beliau merebut kembali kota Riyad yang merupakan ibukota bersejarah kerajaan ini maka semenjak itulah Raja Abdul Aziz mulai bekerja dan membangun serta mewujudkan kesatuan sebuah wilayah terbesar dalam sejarah Arab modern , yaitu ketika berhasil mengembalikan suasana keamanan dan ketenteraman ke bagian terbesar wilayah Jazirah Arabia, serta menyatukan seluruh wilayahnya yang luas ke dalam sebuah negara modern yang kuat yang dikenal dengan nama Kerajaan Saudi Arabia. Penyatuan dengan nama ini, yang dideklarasikan pada tahun 1351 H/1932M, merupakan dimulainya fase baru sejarah Arab modern.

Raja Abdul Aziz Al-Saud pada saat itu menegaskan kembali komitmen para pendahulunya, raja-raja dinasti Saud,untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Syariah Islam, menebar keamanan dan ketenteraman ke seluruh penjuru negeri kerajaan yang sangat luas, mengamankan perjalanan haji ke Baitullah, memberikan perhatian kepada ilmu dan para ulama, dan membangun hubungan luar negeri untuk merealisasikan tujuan-tujuan solidaritas Islam dan memperkuat tali persaudaraan di antara seluruh bangsa arab dan kaum Muslimin serta sikap saling memahami dan menghormati dengan seluruh masyarakat dunia.

Di atas prinsip inilah, para putra beliau sesudahnya mengikuti jejak-langkahnya dalam memimpin Kerajaan Saudi Arabia.Mereka adalah: Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khalid, Raja Fahd, dan Pelayan Dua Kota Suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Dinasti Sa‟udi Trah Yahudi

Namun, di masa yang jauh sebelumnya, di

Najd tahun 851 H.Sekumpulan pria dari Bani Al Masalikh, yaitu trah dari Kaum Anza, yang membentuk sebuah kelompok dagang (korporasi) yang bergerak di bidang bisnis gandum dan jagung dan bahan makananan lain dari Irak,dan membawanya kembali ke Najd. Direktur korporasi ini bernama Sahmi bin Hathlool. Kelompok dagang ini melakukan aktifitas bisnis mereka sampai ke Basra, di sana mereka berjumpa dengan seorang pedagang gandum Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe,Ketika sedang terjadi proses tawar menawar, Si Yahudi itu bertanya kepada kafilah dagang itu. ?Dari manakah anda berasal?? Mereka menjawab, ?Dari Kaum Anza, kami adalah keluarga Bani Al-Masalikh.? Setelah mendengar nama itu, orang Yahudi itu menjadi gembira, dan mengaku bahwa dirinya juga berasal dari kaum keluarga yang sama, tetapi terpaksa tinggal di Bashra, Irak. Karena persengketaan keluarga antara bapaknya dan ahli keluarga kaum Anza.Setelah itu,Mordakhai kemudian menyuruh budaknya untuk menaikkan keranjang-keranjang berisi gandum, kurma dan makanan lain ke atas pundak unta-unta milik kabilah itu. Hal ini adalah sebuah ungkapan penghormatan bagi para

saudagar Bani Al Masalikh itu, dan menunjukkan kegembiraannya karena berjumpa saudara tuanya di Irak. Bagi pedagang Yahudi itu, para kafilah dagang merupakan sumber pendapatan, dan relasi bisnis.

Mardakhai adalah saudagar kaya raya yang sejatinya adalah keturunan Yahudi yang bersembunyi di balik roman wajah Arab dari kabilah Al-Masalikh.

Ketika rombongan itu hendak bertolak ke Najd, saudagar Yahudi itu minta diizinkan untuk ikut bersama mereka,kerana sudah lama dia ingin pergi ke tanah asal mereka Najd. Setelah mendengar permintaan lelaki Yahudi itu,kafilah dagang suku Anza itu pun amat berbesar hati dan menyambutnya dengan gembira.Pedagang Yahudi yang sedang

taqiyyah alias nyamar itu tiba di Najd dengan pedati-pedatinya. Di Najd, dia mulai melancarkan aksi propaganda tentang sejatinya siapa dirinya melalui sahabat-sahabat, kolega dagang dan teman barunya dari keturunan Bani Al-Masalikh tadi. Setelah itu, disekitar Mordakhai, berkumpullah para pendukung dan penduduk Najd. Tetapi tanpa disangka, dia berhadapan dengan seorang ulama yang menentang doktrin dan fahamnya. Dialah Syaikh Shaleh Salman Abdullah Al-Tamimi, seorang ulama kharimatik dari distrik Al-Qasem.Daerah-daerah yang menjadi lokasi disseminasi dakwahnya sepanjang distrik Najd, Yaman, dan Hijaz.

Oleh karena suatu alasan tertentu,

si Yahudi Mordakhai itu -yang menurunkan Keluarga Saud itu- berpindah dari Al Qasem ke Al Ihsa. Di sana, dia merubah namanya dari Mordakhai menjadi Markhan bin Ibrahim Musa. Kemudian dia pindah dan menitip di sebuah tempat bernama Dir’iya yang berdekatan dengan Al-Qateef. Di sana, dia memaklumatkan propaganda dustanya, bahwa perisai Nabi Saw telah direbut sebagai barang rampasan oleh seorang pagan (musyrikin) pada waktu Perang Uhud antara Arab Musyrikin dan Kaum Muslimin. Katanya, ?Perisai itu telah dijual oleh Arab musyrikin kepada kabilah kaum Yahudi bernama Banu Qunaiqa‟ yang menyimpannya sebagai harta karun.?

Selanjutnya dia mengukuhkan lagi posisinya di kalangan Arab Badwi melalui cerita-cerita dusta yang menyatakan bagaimana Kaum Yahudi di Tanah Arab sangat berpengaruh dan berhak mendapatkan penghormatan tinggi Akhirnya, dia diberi suatu rumah untuk menetap di

Dlir‟iya, yang berdekatan Al-Qatef. Dia berkeinginan mengembangkan daerah ini sebagai pusat Teluk Persia. Dia kemudian mendapatkan ide untuk menjadikannya sebagai tapak atau batu loncatan guna mendirikan kerajaan Yahudi di tanah Arab. Untuk memuluskan cita-citanya itu, dia mendekati kaum Arab Badwi untuk menguatkan posisinya, kemudian secara perlahan, dia mensohorkan dirinya sebagai raja kepada mereka.

Kabilah Ajaman dan Kabilah Bani Khaled

, yang merupakan penduduk asli Dlir‘iya menjadi risau akan sepak terjang dan rencana busuk keturunan Yahudi itu. Mereka berencana menantang untuk berdebat dan bahkan ingin mengakhiri hidupnya.Mereka menangkap saudagar Yahudi itu danmenawannya, namun berhasil meloloskan diri.

Saudagar keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu mencari suaka di sebuah ladang bernama

Al-Malibed Gushaiba yang berdekatan dengan Al Arid, sekarang bernama Riyadh. Disana dia meminta suaka kepada pemilik kebun tersebut untuk menyembunyikan dan melindunginya. Tuan kebun itu sangat simpati lalu memberikannya tempat untuk berlindung. Tetapi tidak sampai sebulan tinggal di rumah pemilik kebun, kemudian Yahudi itu secara biadab membantai tuan pelindungnya bersama seluruh keluarganya.

Sungguh bengis, air susu dibalas dengan air aki campur tuba. Mordakhai memang pandai beralibi, dia katakan bahwa mereka semua telah dibunuh oleh pencuri yang menggarong rumahnya. Dia juga berpura-pura bahwa dia telah membeli kebun tersebut dari tuan tanah sebelum terjadinya pembantaian tersebut. Setelah merampas tanah tersebut, dia menamakannya Al-Dlir‘iya, sebuah nama yang sama dengan tempat darimana ia terusir dan sudah ditinggalkannya.

Keturunan Yahudi bernama Mordakhai itu dengan cepat mendirikan sebuah markas dan ajang

rendezvous bernama “Madaffa” di atas tanah yang dirampasnya itu. Di markas ini dia mengumpulkan para pendekar dan jawara propaganda (kaum munafik) yang selanjutnya mereka menjadi ujung tombak propaganda dustanya. Mereka mengatakan bahwa Mordakhai adalah Syaikh-nya orang-orang keturunan Arab yang disegani. Dia menabuh genderang perang terhadap Syaiikh Shaleh Salman Abdulla Al-Tamimi, musuh tradisinya. Akhirnya, Syeikh Shaleh Salman terbunuh di tangan anak buah Mordakhai di Masjid Al-Zalafi.

Mordakhai berhasil dan puas hati dengan aksi-aksinya. Dia berhasil menjadikan Dlir‘iya sebagai pusat

kekuasaannya. Di tempat ini, dia mengamalkan poligami, mengawini puluhan gadis, melahirkan banyak anak yang kemudian dia beri nama dengan nama-nama Arab.Walhasil, kaum kerabatnya semakin bertambah dan berhasil menghegemoni daerah Dlir‘iya di bawah bendera Dinasti Saud. Mereka acapkali melakukan tindak kriminal, menggalang beragam konspirasi untuk menguasai

semenanjung Arab. Mereka melakukan aksi perampasan dan penggarongan tanah dan ladang penduduk setempat,membunuh setiap orang yang mencoba menentang rencana jahat mereka. Dengan beragam cara dan muslihat mereka melancarkan aksinya. Memberikan suap, memberikan iming-iming wanita dan gratifikasi uang kepada para pejabat berpengaruh di kawasan itu. Bahkan, mereka ―menutup mulut‖ dan ―membelenggu tangan‖ para sejarawan yang mencoba menyingkap sejarah hitam dan merunut asal garis trah keturunan mereka

kepada kabilah Rabi‟a,Anza dan Al-Masalikh.

SEKTE WAHABI

Seorang sejarawan hipokrit ―si raja bohong‖ bernama

Mohammad Amin al-Tamimi, kepala Perpustakaan Kerajaan Saudi, menulis garis silsilah keluarga Saudi dan menghubungkan silsilah Moordakhai pada Nabi Muhammad Saw. Untuk kerja kotornya itu, dia dihadiahi uang sebesar

35 ribu pound Mesir dari Kedutaan Arab Saudi di Kairo, Mesir pada tahun 1362 H atau 1943 M yang diserahkan secar simbolis kepada dubes Arab Saudi untuk Mesir, yang waktu itu dijabat oleh Ibrahim Al-Fadel.

―Seperti yang telah disebutkan sebelum ini, keluarga Yahudi berasal dari Klan Saud (Moordakhai) mengamalkan ajaran poligami dengan mengawini ratusan wanita arab dan melahirkan banyak anak. Hingga sekarang amalan poligami itu diteruskan praktiknya oleh anak keturunan. Poligami adalah

warisan yang harus dijaga dan diamalkan sebagaimana praktik kakek moyangnya!

Salah seorang anak Mordakhai bernama

Al-Maqaran ,di ‗arabkan‘ dari keturunan Yahudi (Mack-Ren) dan mendapat anak bernama Mohamad dan seorang lagi bernama Saud, yang merupakan cikal bakal Dinasti Saud sekarang ini.

Keturunan Saud melancarkan kampanye dan propaganda pembunuhan terhadap ketua-ketua kabilah Arab yang berada di bawah kekuasaannya dan mencap mereka sesat, telah meninggalkan ajaran Al-Qur;an, dan menyeleweng dari ajaran Islam. JADI MEREKA BERHAK UNTUK DIBUNUH OLEH

KELUARGA SAUDI !!

Dalam sebuah buku tentang sejarah Keluarga Saudi hal. 98-101 ,ahli sejarah keluarga mereka telah mempopulerkan bahawa Dinasti Saud mendakwa semua penduduk Najd adalah kafir; maka darah mereka adalah halal, mereka berhak dibantai, harta mereka dirampas, wanita mereka dijadikan budak seks. Seseorang muslim tidak benar benar Muslim jika tidak mengamalkan ajaran yang berasal dari MOHAMMAD BIN ABDUL WAHAB ( Yahudi yang berasal dari keturunan Turki).

PEMAHAMAN WAHABI DALAM KELUARGA SAUD Keluarga Saud dikenal penganut setia golongan Wahabi/Salafi yang berpegang dengan akidah atau keyakinan Muhammad Ibnu Abdul Wahhab yang mengaku sebagai penerus Ibnu Taimiyyah (kita bicarakan tersendiri mengenai sejarah singkat Ibnu Abdul Wahhab). Golongan yang mereka anut ini sering menafsirkan ayat-ayat al-Qur‘an dan hadits Nabi saw.secara tekstual (apa adanya kalimat) dan literal (makna yang sebenarnya) atau harfiah dan meniadakan arti majazi atau kiasan. Oleh karenanya mereka sering menjasmanikan (tajsim) dan menyerupakan (tasybih) Allah swt. secara hakiki/sesungguhnya kepada makhluk-Nya.Na‘udzubillah. .

Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur‘an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang

mempunyai arti majazi atau kiasan, yang mana kata-kata Allah swt. harus diartikan sesuai dengannya. Banyak ulama-ulama pakar yang mengeritik dan menolak akidah mengenai

Tajsim/Penjasmanian dan Tasybih atau Penyerupaan Allah swt. terhadap makhluk-Nya. Karena ini

bertentangan dengan firman Allah swt. sebagai berikut:

Dalam surat Syuura (42) : 11; ‗ Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya‘.Surat Al-An‘aam (6): 103;

‗Tiada Ia tercapai oleh penglihatan mata‘. Surat Ash-Shaffaat (37) : 159; ‗Mahasuci Allah dari apa

yang mereka sifatkan‘, dan ayat-ayat lainnya.Dengan adanya penafsiran Al-Qur‘an dan Sunnah Rasulallah saw. secara tekstual ini, mereka mudah membid‘ahkan dan mensyirikkan Tawassul (berdo’a pada Allah sambil menyertakan nama Rasulallah atau seorang sholeh/wali dalam do‘a itu),Tabarruk (pengambian barokah), permohonan syafa‘at pada Rasulallah saw. dan para wali Allah, peringatan-peringatan keagamaan, kumpulan majlis-majlis dzikir (istighothah, tahlilan dan sebagainya), ziarah kubur, taqlid (ikut-ikutan) kepada imam madzhab dan lain sebagainya (kita bicarakan sendiri pada babnya masing-masing).

Golongan Salafi/Wahabi dan pengikutnya ini sering berkata bahwa mereka akan mengajarkan

syari‘at Islam yang paling murni dan benar, sehingga mudah mensesatkan sampai-sampai berani

mengkafirkan, mensyirikkan sesama muslimin yang tidak sependapat atau sepaham dengan

mereka.

Faham golongan Wahabi/Salafi pada zaman modern ini seperti

golongan al-Hasyawiyyah, karena kepercayaan-kepercayaan dan pendapatpendapat mereka mirip dengan golongan yang dikenali sebagai al-Hasyawiyyah pada abad-abad yang awal. Istilah al-Hasyawiyyah adalah berasal daripada kata dasar al-Hasyw yaitu Penyisipan,pemasangan dan kemasukan.

Ahmad bin Yahya al-Yamani (m.840H/1437M

) mencatatkan bahwa: ?Nama al-Hasyawiyyah digunakan kepada orang-orang yang meriwayatkan hadits-hadits sisipan yang sengaja dimasukkan oleh golongan al-Zanadiqah sebagaimana sabda Nabi saw. dan mereka menerimanya tanpa melakukan interpretasi semula, dan mereka juga menggelarkan diri mereka Ashab al-Hadith dan Ahlal-Sunnah wa al-Jama`ah…Mereka bersepakat mempercayai konsep pemaksaan (Allah berhubungan dengan perbuatan manusia) dan tasybih (bahwa Allah seperti makhluk-Nya) dan mempercayai bahwa Allah mempunyai jasad dan bentuk serta mengatakan bahwa Allah mempunyai anggota tubuh dan lain sebagainya.?

Al-Syahrastani (467-548H/1074-1153M)

menuliskan bahwa: Terdapat sebuah kumpulan Ashab al-Hadits, yaitu al-Hasyawiyyah dengan jelas menunjukkan kepercayaan mereka tentang tasybih (yaitu Allah serupa makhluk-Nya) …sehingga mereka sanggup mengatakan bahwa pada suatu ketika, kedua-dua mata Allah kesedihan, lalu para malaikat datang menemui-Nya dan Dia (Allah) menangisi (kesedihan) berakibat banjir Nabi Nuh a.s sehingga mata-Nya menjadi merah, dan `Arasy meratap hiba seperti suara pelana baru dan bahwa Dia melampaui `Arasy dalam keadaan melebihi empat jari di segenap sudut. [ Lihat Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, h.141.]

Faham sekte Wahabi ini seakan-akan menjiplak atau mengikuti kaum Khawarij yang

juga mudah mengafirkan, mensyirikkan, mensesatkan sesama muslimin karena tidak sependapat

dengan fahamnya. Kaum khawarij ini kelompok pertama yang secara terang-terangan menonjolkan akidahnya dan bersitegang leher mempertahankan prinsip keketatan dan kekerasan terhadap kaum muslimin yang tidak sependapat dan sefaham dengan mereka.

Perlu kita ketahui bahwa Kaum khawarij ini mengkafirkan Amirul Mu‘minin Imam Ali bin Abi Thalib kw dan para sahabat Nabi saw. yang mendukungnya. Kelompok ini ditetapkan oleh semua ulama Ahlus-Sunnah sebagai ahlul-bid‘ah, dan dhalalah/sesat berdasarkan dzwahirin-nash (makna harfiah nash) serta keumuman maknanya yang berlaku terhadap kaum musyrikin.

Kaum Khawarij ini sama dengan Sekte Wahbi ,mudah sekali mengkafir kafirkan kaum muslimin yang tidak sefaham dengan mereka, menghalal kan pembunuhan,

perampasan harta kaum muslimin selain golongannya/ madzhabnya.

Ibnu Mardawih mengetengahkan sebuah riwayat berasal dari Mas‘ab bin Sa‘ad yang menuturkan

sebagai berikut :

?Pernah terjadi peristiwa, seorang dari kaum Khawarij menatap muka Sa‟ad bin Abi Waqqash

(ayah Mas‟ab) ra. Beberapa saat kemudian orang Khawarij itu dengan galak berkata: „Inilah dia,

salah seorang pemimpin kaum kafir!‟. Dengan sikap siaga Sa‟ad menjawab; „ Engkau bohong!.

Justru aku telah memerangi pemimpin-pemimpin kaum kafir „. Orang khawarij yang lain berkata: „

Engkau inilah termasuk orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya „ ! Sa‟ad menjawab :

„Engkau bohong juga ! Mereka itu adalah orang-orang yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan

Allah, Tuhan mereka, mengingkari perjumpaan dengan-Nya (yakni tidak percaya bahwa pada hari

kiamat kelak akan dihadapkan kepada Allah swt.) ‟! Riwayat ini dikemukakan juga oleh Al-Hafidz

didalam Al-Fath.

Thabrani mengetengahkan sebuah riwayat juga

didalam Al-Kabir dan Al-Ausath, bahwa ― ‗Umarah bin Qardh dalam tugas operasi pengamanan didaerah dekat Al-Ahwazmendengar suara adzan. Ia berangkat menuju ketempat suara adzan itu dengan maksud hendak menunaikan sholat berjama‘ah. Tetapi alangkah terkejutnya, ketika tiba disana ternyata ia berada ditengah kaum

Khawarij sekte Azariqah. Mereka menegurnya: ‗ai musuh Allah, apa maksudmu datang kemari ?‘

! Umarah menjawab dengan tegas: ‗alian bukan kawan-kawanku‘ !

Mereka menyahut: ‗a, engkau memang kawan setan, dan engkau harus kami bunuh‘ ! Umarah berkata; ‗Apakah engkau tidak senang melihatku seperti ketika Rasulallah saw. dahulu melihatku ? ‗ Mereka bertanya: ‗Apa yang menyenangkan beliau darimu ? ‗marah menjawab: ‗Aku datang kepada beliau saw. sebagai orang kafir, lalu aku meng-ikrarkan kesaksianku, bahwasanya tiada tuhan selain Allah dan bahwa beliau saw. adalah benar-benar utusan Allah. Beliau saw. Kemudian membiarkan aku pergi ‘. Akan tetapi sekte Azariqah tidak puas dengan jawaban ‗marah seperti itu. Ia lalu diseret dan dibunuh ― Peristiwa ini dimuat juga sebagai berita yang benar dari sumber sumber yang dapat dipercaya.

Sikap dan tindakan kaum khawarij tersebut jelas mencerminkan penyelewengan akidah mereka,

dan itu merupakan dhalalah/kesesatan. Perbuatan mereka ini telah dan selalu dilakukan oleh

pengikut mereka disetiap zaman. Mereka ini sebenarnya adalah orang-orang yang dipengaruhi

oleh bujukan hawa nafsunya sendiri dan berpegang kepada ayat-ayat Al-Qur‘an dan Hadits secara

harfiah atau tekstual. Mereka beranggapan hanya mereka/golongannya sajalah yang paling benar,

suci dan murni, sedangkan orang lain yang tidak sefaham dengan mereka adalah sesat, berbuat

bid‘ah, kafir dan musyrik! Mereka ini tidak sudi mendengarkan siapapun juga selain orang dari

kelompok mereka sendiri. Sama dengan Sekte Wahabi maka Khawarij-pun memandang ummat Islam lainnya dengan kacamata hitam,sebagai kaum bid‘ah atau kaum musyrikin yang sudah keluar meninggalkan agama Islam !

Riwayat singkat Muhammad ibnu Abdul Wahhab

Muhammad ibnu Abdul Wahhab ini dilahirkan di perkampungan `Uyainah bagian

selatan kota Najd ( Saudi Arabia) tahun 1703 masehi dan wafat tahun 1792 masehi,

Dia mengaku sebagai salah satu penerus ajaran Ibnu Taimiyyah. Pengikut akidah dia ini dikenal sekarang dengan nama ‗olongan Wahabi atau dikenal juga dengan Salafi Wahabi ‘

Ia tidak dinamakan golongan/madzhab al-Muhammadiyyah tidak lain bertujuan untuk membedakan di antara para pengikut Nabi Muhammad saw. dengan pengikut madzhab mereka,dan juga bertujuan untuk menghalangi segala bentuk eksploitasi (istighlal). Penganut Wahabi sendiri menolak untuk dijuluki sebagai penganut madzhab Wahabi dan mereka menggelarkan diri mereka sebagai golongan al-Muwahhidun (unitarians) atau madzhab Salafus-Sholeh atau Salafi (pengikut kaum Salaf) karena

mereka

menurut pendapatnyaingin mengembalikan ajaran-ajaran tauhid ke dalam Islam dan kehidupan murni menurut sunnah Rasulullah saw.

Muhammad Ibnu Abdul Wahhab ini amat mahir didalam mencampur-adukkan

antara kebenaran dengan kebatilan. Oleh karena itu, sebagian kaum Muslimin berbaik sangka

kepadanya dan menggelarinya dengan sebutan Syeikhul Islam, sehingga dengan demikian

namanya menjadi masyhur dan ajarannya menjadi tersebar, padahal itu semua telah banyak

dikecam oleh ulama-ulama pakar karena kebatilan akidah dan pahamnya itu.Pada masanya keyakinan madzhab Hanbali (Ahmad bin Hanbal rh) untuk pertama kali didalam sejarahnya mencapai kemuliaan dan kebesarannya, yang mana pada dua periode sebelumnya tidak memperoleh keberhasilan yang besar. Adapun yang menjadi sebabnya ialah karena golongan Asy’ariyyah secara langsung memonopoli bidang keyakinan sepeninggal Imam Ahmad bin Hanbal.

Wahabi Bertauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah

Muhamad Ibnu Abdul Wahhab mempunyai akidah atau keyakinan bahwa tauhid itu terbagi dua

macam yaitu; Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah. Adapun mengenai tauhid rububiyyah, baik orang Muslim maupun orang kafir mengakui itu. Adapun

tauhid uluhiyyah, dialah yang menjadi pembeda antara kekufuran dan Islam. Dia berkata:

―endaknya setiap Muslim dapat membedakan antara kedua jenis tauhid ini, dan mengetahui

bahwa orang-orang kafir tidak mengingkari Allah swt. sebagai Pencipta, Pemberi rezeki dan

Pengatur‖

Dia berdalil dengan firman-firman Allah swt. berikut ini:

―atakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah

yang kuasa (menciptakan)pendengaran dan penglihat an, dan siapakah yang mengeluarkan yang

hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur

segala urusan?’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?‖S.Yunus [10]

;31).

―an sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menjadikan langit dan

bumi dan menundukkan matahari dan bulan? ‘Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah’, maka

betapakah mereka dapat dipalingkan (dari jalan yang benar)‖(S. Al ‗nkabut [29] ; 61)

Selanjutnya Ibnu Abdul Wahhab berkata: Jika telah terbukti bagi Anda bahwa orang-orang kafir

mengakui yang demikian, niscaya anda mengetahui bahwa perkataan anda yang mengatakan

“Sesungguhnya tidak ada yang menciptakan dan tidak ada yang memberi rezeki kecuali Allah,

serta tidak ada yang mengatur urusan kecuali Allah”, tidaklah menjadikan diri anda seorang

Muslim sampai anda mengatakan, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’ dengan mengikuti/disertai

melaksanakan artinya.”

(Fi „qaid al-Islam, Muhmmad bin Abdul Wahhab, hal. 38) .

Dengan pemahaman Muhammad Abdul Wahhab yang sederhana dan salah mengenai ayat-ayat

Allah swt. ini dia mudah mengkafirkan masyarakat muslim dengan mengatakan, “Sesungguhnya

orang-orang musyrik zaman kita

yaitu orang-orang Muslimlebih keras kemusyrikannya

dibandingkan orang-orang musyrik yang pertama. Karena, orang-orang musyrik zaman dahulu

(yang pertama), mereka hanya menyekutukan Allah disaat lapang, sementara disaat genting

mereka mentauhidkan-Nya.

Hal ini sebagaimana firman Allah swt. yang berbunyi, ‘Maka apabila mereka naik kapal mereka

berdo‘a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah

menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali)mempersekutukan (Allah).”

(

Risalah Arba‟h Qawa‟d, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal.4)

Dia juga mengatakan setiap orang yang bertawassul kepada Rasulallah saw. dan para Ahlul-

Baitnya (keluarganya), atau menziarahi kuburan mereka, maka dia itu kafir dan musyrik; dan

bahkan kemusyrikannya jauh lebih besar daripada kemusyrikanpara penyembah Lata, ‘Uzza,

Mana dan Hubal. Dibawah naungan keyakinan inilah Dinasti Arab dan kelompok Wahabi membunuh orang-orang Muslim yang tidak berdosa dan merampas harta benda mereka, pedoman yang sering mereka kumandangkan ialah:

―asuklah ke dalam ajaran Wahabi. Dan jika tidak, niscaya Anda terbunuh, istri Anda menjadi

janda, dan anak Anda menjadi yatim‖ Dapat dibaca dalam

kitab al-Radd `ala al-Akhna‟ oleh Ibnu Taimiyyah bahwa dia menganggap

hadits-hadits yang diriwayatkan tentang kelebihan ziarah Rasulallah saw. sebagai hadits mawdu`

(palsu). Dia juga turut menjelaskan ‗rang yang berpegang kepada akidah bahwa Nabi saw. masih

hidup walaupun sesudah mati seperti kehidupannya semasa baginda masih hidup, dia telah

melakukan dosa yang besar‘. Inilah juga yang sering di-iktiqadkan oleh Muhamad Abdul Wahhab

dan para pengikutnya, bahkan mereka menambahkan kebatilan mengenai masalah tersebut.

Memonopoli ajaran Tauhid dan pengkafiran terhadap para ulama

Sekte Wahabi mengaku sebagai satu-satunya pemilik ajaran Tauhid yang bermula dari pendirinya, Muhamad bin Abdul Wahhab. Dengan begitu akhirnya mereka tidak mengakui konsep Tauhid yang dipahami oleh ulama muslimin selain sekte Wahabi dan pengikutnya. Kini kita akan melihat beberapa tekts yang dapat menjadi bukti atas pengkafiran Muhamad bin Abdul Wahhab terhadap para ulama, kelompok dan masyarakat muslim selain pengikut sekte- nya. Kita akan menjadikan buku karya Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim al-Hanbali an-Najdi yang berjudul

“Ad-Durar as-Saniyah” sebagai rujukan. Beberapa ungkapan Muhamad bin Abdul Wahhab berikut ini yang berkaitan dengan dakwaannya

atas monopoli kebenaran konsep Tauhid versinya, dan menganggap selain apa yang dipahami

sebagai kebatilan yang harus diperangi:

?…Dahulu, aku tidak memahami arti dari ungkapan Laailaaha Illallah. Kala itu, aku juga tidak

memahami apa itu agama Islam. (Semua itu) sebelum datangnya anugerah kebaikan yang Allah

berikan (kepadaku). Begitu pula para guru (ku), tidak seorangpun dari mereka yang

mengetahuinya. Atasa dasar itu, setiap ulama ‟l-Aridh‟yang mengaku memahami arti Laailaaha

Illallah atau mengerti makna agama Islam sebelum masa ini (anugerah kepada Muhamad bin

Abdul Wahhab, red) atau ada yang mengaku bahwa guru-gurunya mengetahui hal tersebut, maka

ia telah melakukan kebohongan dan penipuan. Ia telah mengecoh masyarakat dan memuji diri

sendiri yang tidak layak bagi dirinya.? (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 51 )

Dengan ungkapannya itu Muhamad Abdul Wahhab mengaku hanya dirinya sendiri yang memahami konsep tauhid dari kalimat Laailaaha Illallah dan telah mengenal Islam dengan sempurna. Dengan kesombonganya dia menafikan pemahaman ulama dari golongan manapun berkaitan dengan konsep Tauhid dan pengenalan terhadap Islam, termasuk guru-gurunya sendiri dari mazhab Hanbali,apalagi dari madzhab lain. Dia menuduh para ulama lain yang tidak memahami konsep Tauhid dan Islam –ala versinya- telah melakukan penyebaran ajaran batil, ajaran yang tidak berlandaskan ilmu

dan kebenaran.Muhamad Abdul Wahhab mengatakan :

„ereka (ulama Islam) tidak bisa membedakan antara agama Muhammad dan agama „mr bin

Lahyi yang dibuat untuk di ikuti orang Arab. Bahkan menurut mereka, agama „mr adalah agama

yang benar.? (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 51)

Siapakah gerangan ‗mr bin Lahyi itu? Dalam kitab sejarah karya

Ibnu Hisyam disebutkan bahwa:

―Ia adalah pribadi yang pertama kali pembawa ajaran penyembah berhala ke Makkah dan

sekitarnya. Dahulu ia pernah bepergian ke Syam. Di sana ia melihat masyarakat Syam

menyembah berhala. Melihat hal itu ia bertanya dan lantas dijawab: ‗erhala-berhala inilah yang

kami sembah. Setiap kali kami menginginkan hujan dan pertolongan maka merekalah yang

menganugerah- kannya kepada kami, dan memberi kami perlindungan‖ Lantas Amr bin Lahy berkata kepada mereka: ‗pakah kalian tidak berkenan memberikan patung-

patung itu kepada kami sehingga kami bawa ke tanah Arab untuk kami sembah?‘. Kemudian ia mengambil patung terbesar yang bernama Hubal untuk dibawa ke kota Makkah yang kemudian diletakkan di atas Ka‘bah. Lantas ia menyeru masyarakat sekitar untuk menyembahnya‖

(Lihat: as-Sirah an- Nabawiyah karya Ibnu Hisyam jilid 1 halaman 79)

Dengan demikian Muhamad bin Abdul Wahhab telah menyamakan para ulama Islam selain dia

dan pengikutnya dengan ‗mr bin Lahy pembawa ajaran syirik dan menuduh para ulama mengajarkan ajaran syirik serta para pengikut- nya sebagai penyembah berhala yang dibawa oleh

ulama-ulama Islam itu. Siapapun yang memahami ajaran Tauhid ataupun pemahaman Islam yang

berbeda dengan versi Muhamad Ibnu Abdul-Wahhab dan pengikutnya, maka ia masih tergolong

sesat karena tidak mendapatanugerah khusus Ilahi. Tidak lain karena, para ulama Islam selain

sekte Wahabi meyakini legalitas ajaran seperti Tabarruk, Tawassul…sb.

Muhammad bin Abdul Wahhab Mengkafirkan Beberapa Tokoh Ulama

Di sini, kita akan mengemukakan beberapa pengkafiran Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap

beberapa tokoh ulama Ahlusunah yang tidak sejalan dengan pemikiran sektenya:

a. Dalam sebuah surat yang dilayangkan kepada Syeikh Sulaiman bin Sahim

seorang tokoh

madzhab Hanbali pada zamannya

Ia (Muhamad Abdul Wahhab) menuliskan: „ku mengingatkan kepadamu bahwa engkau bersama ayahmu telah dengan jelas melakukan perbuatan kekafiran,syirik dan kemunafikan !….engkau bersama ayahmu siang dan malam sekuat tenagamu telah berbuat permusuhan terhadap agama ini !…engkau adalah seorang penentang yang sesat di atas keilmuan. Dengan sengaja melakukan kekafiran terhadap Islam. Kitab kalian itu menjadi buktikekafiran kalian!? (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 31)

b. Dalam surat yang dilayangkan kepada Ahmad bin Abdul Karim yang mengkritisinya. Ia

(Muhamad Abdul Wahhab) menuliskan: ―

Engkau telah menyesatkan Ibnu Ghonam dan beberapa

orang lainnya. Engkau telah lepas dari millah (ajaran) Ibrahim. Mereka menjadi saksi atas dirimu

bahwa engkau tergolong pengikut kaum musyrik? (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 64)

c. Dalam sebuah surat yang dilayangkannya untuk Ibnu Isa

yang telah melakukan argumentasi

terhadap pemikirannya

Muhamad bin Abdul Wahhab lantas memvonis sesat para pakar fikih

(fuqoha‘) secara keseluruhan. Ia (Muhamad Abdul Wahhab) menyatakan:

(Firman Allah); ?Mereka

menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah?. Rasul dan

para imam setelahnya telah mengartikannya sebagai „ikih‟dan itu yang telah dinyatakan oleh

Allah sebagai perbuatan syirik. Mempelajari hal tadi masuk kategori menuhankan hal-hal lain

selain Allah. Aku tidak melihat terdapat perbedaan pendapat para ahli tafsir dalam masalah ini.?

(Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 2 halaman 59)

d. Berkaitan dengan Fakhrur Razi

pengarang kitab Tafsir al-Kabir, yang bermadzhab Syafi‘i

Asy‘ary

, ia (Muhamad Abdul Wahhab) mengatakan: ?Sesungguhnya Razi tersebut telah

mengarang sebuah kitab yang membenarkan para penyembah bintang? (Lihat: Ad-Durar as-

Saniyah jilid 10 halaman 355).

Betapa kedangkalan ilmu Muhamad bin Abdul Wahhab terhadap karya Fakhrur Razi. Padahal

dalam karya tersebut, Fakhrur Razi menjelaskan tentang beberapa hal yang menjelaskan tentang

fungsi gugusan bintang dalam kaitan- nya dengan fenomena yang berada di bumi, termasuk

berkaitan dengan bidang pertanian. Namun Muhamad bin Abdul Wahhab dengan keterbatasan

ilmu dan kebodohannya terhadap ilmu perbintangan telah menvonisnya dengan julukan yang tidak

layak, tanpa didasari ilmu yang cukup.

Setelah adanya makalah-makalah diatas, lantas apakah layak ia disebut ulama pewaris akhlak dan

ilmu Nabi, apalagi pembaharu (mujaddid) sebagaimana yang diakui oleh kaum Wahhabi? Dari

berbagai pernyataan di atas maka jangan kita heran jika lantas Muhammad bin Abdul Wahhab pun

mengkafirkan –yang lantas diikuti oleh para pengikutnya (Wahhabi)– para pakar teologi(mutakallimin) Ahlusunnah secara keseluruhan

(Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 53), bahkan ia (Muhamad Abdul Wahhab) mengaku-ngaku bahwa kesesatan para pakar teologi tadi merupakan konsensus (ijma‘) para ulama dengan mencatut nama para ulama seperti adz-Dzahabi, Imam Daruquthni dan al-Baihaqi.

Padahal jika seseorang meneliti apa yang ditulis oleh seorang seperti adz-Dzahabi –yang konon

kata Ibnu Abdul Wahhab juga mengkafirkan para teolog

dalam kitabnya ‗iar A‘lam an-Nubala‘

dimana beliau (Adz-Dzahabi) banyak menjelaskan dan memperkenalkan beberapa tokoh teolog,

tanpa terdapat ungkapan pengkafiran dan penyesatan.

Walaupun kalaulah umpama terdapat beberapa teolog yang menyimpang namun tentu bukan hal

yang bijak jika hal itudigeneralisir. Jika kita teliti dari konteks yang terdapat dalam ungkapan

Muhamad bin Abdul Wahhab, jelas sekali yang ia maksud bukanlah para teolog non muslim atau

yang menyimpang saja, tetapi semua para teolog muslim seperti Abul Hasan al-Asy‘ari –pendiri mazhab ‗sy‘ariyah- dan selainnya sekalipun. Jangankan terhadap orang yang berlainan madzhab ─onon Muhamad bin Abdul Wahhab yang

mengaku sebagai penghidup ajaran dan metode (manhaj) Imam Ahmad bin Hanbal sesuai dengan

pemahaman Ibnu Taimiyah─dengan sesama madzhab pun turut disesatkan. Kita akan melihat contoh dari penyesatan pribadi-pribadi tersebut: ―dapun Ibnu Abdul Lathif, Ibnu ‗faliq dan Ibnu Mutlaq adalah orang-orang yang pencela ajaran Tauhid…amun Ibnu Fairuz dari semuanya lebih dekat dengan Islam‖(Lihat:Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 78).

Apa makna lebih dekat pada tekts diatas? Berarti mereka bukan Islam (baca: kafir) dan di luar Islam namun mendekati ajaran Islam. Padahal Muhamad bin Abdul Wahhab juga mengakui bahwa Ibnu Fairuz adalah pengikut dari mazhab Hanbali, penjunjung ajaran Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Bahkan di tempat lain, Muhammad Abul Wahhab berkaitan dengan Ibnu Fairuz mengatakan:

?Dia telah kafir dengan kekafiran yang besar dan telah keluar dari millah (agama Islam)? (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 63)

Bagaimana Muhamad bin Abdul Wahhab tega mengkafirkan orang yang se-manhaj dengannya?

Jika rasa persaudaraan terhadap orang yang se-manhaj saja telah sirna, lantas bagaimana

mungkin ia memiliki jiwa persaudaraan dengan pengikut manhaj lain yang di luar manhajnya?

Niscaya pengkafirannya akan menjadi-jadi dan lebih menggila !!

Kita akan kembali melihat apa yang diungkapkannya kepada pengikut ajaran lain. Jika para ulama

pakar fikih (faqoha‘) dan ahli teologi (mutakklim) telah di sesatkannya, maka jangan heran pula jika

pakar ilmu mistik modern (baca: tasawwuf falsafi) seperti Ibnu ‗rabi pun dikafirkan sekafirkafirnya.

Bahkan dinyatakan bahwa kekafiran Ibnu Arabi yang bermadzhab Maliki itu dinyatakan lebih kafir dari Fir‘aun. Bahkan bukan hanya sebatas pengkafiran dirinya terhadap pribadi Ibnu Arabi saja, tetapi Muhamad Abdul Wahhab telah memerintahkan (baca: mewajibkan) orang lain untuk mengkafirkannya juga. Dia menyatakan:

“Barangsiapa yang tidak mengkafirkannya (Ibnu Arabi) maka iapun tergolong orang yang kafir pula”.

Dan bukan hanya orang yang tidak mau mengkafirkan yang divonis Muhamad bin Abdul Wahhab

sebagai orang kafir, bahkanyang ragu dalam kekafiran Ibnu Arabi pun divonisnya sebagai orang

kafir. Ia mengatakan:

?Barangsiapa yang meragukan kekafirannya (Ibnu Arabi) maka ia tergolong

kafir juga?. (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 25)

Kini, kita akan melihat satu contoh saja, berkaitan dengan pengkafiran Syiah, madzhab Islam di

luar Ahlusunnah. Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi pernah menyatakan: ―arangsiapa yang

meragukan kekafiran mereka maka iapun tergolong orang kafir‖Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10

halaman 369).

Muhamad bin Abdul Wahhab ‗engaku‘ bahwa ungkapan ini berasal dari al-Muqoddasi yang

diterima oleh pemikirannya. Padahal Ibnu Taimiyah yang juga tidak suka terhadap Syiah –dilihat

dari berbagai buku karyanya- tidak pernah sampai mengeluarkan Syiah dari Islam (pengkafiran),

paling maksimal ia telah menvonis Syiah sebagai ahli Bid‘ah saja. Atas dasar pengkafiran itulah maka jangan heran jika para pengikut Wahhabi hingga hari ini sangat menentang segala usaha untuk persatuan antara madzhab-madzhab Islam, terkhusus persatuan Sunni-Syiah. Bahkan mencela ulama-ulama Ahlusunnah –apalagi ulama Syiah– yang melakukan usaha tersebut.Jadi jelaslah dari sini, jangankan Syiah –yang di luar Ahlusunnah– ataupun Tasawwuf, para ulama pakar teologi dan fikih dari Ahlusunnah pun ia kafirkan, terhadap sesama penghidup ajaran Ibnu Taimiyah pun divonisnya sebagai kafir. Mungkinkan sekte pengkafiran ini mampu mewakili sebagai ajaran suci Rasulallah saw. yang dinyatakan sebagai ―ahmatan lil Alaminin‖

Mari kita lanjutkan lagi pengkafiran terhadap kaum muslimin yang tidak mengikuti ajaran sekte

Syeikh Pendiri Wahhabi yang berasal dari Najd itu:

Pengkafiran Penduduk Makkah

Dalam hal ini Muhamad bin Abdul Wahhab menyatakan:

?Sesungguhnya agama yang dianut penduduk Makkah (pada zamannya .red) sebagaimana halnya agama yang karenanya Rasulullah diutus untuk memberi peringatan? (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 86, dan atau padajilid 9 halaman 291). Akibat penjelasan ini maka dinasti arab dgn mudah membantai penduduk arab yang tidak sejalan dgn pemikiran mereka Yahudisme dimana peluang itu didukung dgn Akidah Islam ala Wahabi

Pengkafiran Penduduk Ihsa‟

Berkaitan dengan ini, Muhamad bin Abdul Wahhab menyatakan: ‗

Sesungguhnya penduduk Ihsa‟di zaman (nya) adalah para penyembah berhala (baca: Musyrik)? (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 113)

Pengkafiran Penduduk „nzah.

Berkaitan dengan ini, Muhammad bin Abdul Wahhab menyatakan:

„ereka telah tidak meyakini hari akhir ‟(Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 113)

Pengkafiran Penduduk Dhufair.

Penduduk Dhufair merasakan hal yang sama seperti yang dialami oleh penduduk wilayah

„nzah,adalah sebagai ?pengingkar hari akhir (kiamat)?. (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 113)

Pengkafiran Penduduk Uyainah dan Dar‟yah.

Hal ini sebagaimana yang pernah kita singgung pada kajian-kajian terdahulu bahwa, para ulama

wilayah tersebut terkhusus Ibnu Sahim al-Hanbali beserta para pengikutnya telah dicela, dicaci

dan dikafirkan. Dikarenakan penduduk dua wilayah itu (Uyainah dan Dar‘iyah) bukan hanya tidak

mau menerima doktrin ajaran sekte Muhamad bin Abdul Wahhab, bahkan ada usaha mengkritisinya

dengan keras. Atas dasar ini maka Muhamad bin Abdul Wahhab tidak segan-segan

mengkafirkan semua penduduknya, baik ulama‘nya hingga kaum awamnya.

(Lihat: Ad-Durar as-

Saniyah jilid 8 halaman 57)

Pengkafiran Penduduk Wasym.

Berkaitan dengan ini, Muhamad bin Abdul Wahhab telah menvonis kafir terhadap semua

penduduk Wasym, baik kalangan ulama‘nya hingga kaum awamnya. (

Lihat: Ad-Durar as-Saniyah

jilid 2 halaman 77)

Pengkafiran Penduduk Sudair.

Berkaitan dengan ini, Muhamad bin Abdul Wahhab telah melakukan hal yang sama sebagaimana

yang dialami oleh penduduk wilayah Wasym. (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 2 halaman 77)

Dari contoh-contoh di atas telah jelas dan tidak mungkin dapat dipungkiri oleh siapapun ─aik

yang pro maupun yang kontra terhadap sekte Wahabisme─bahwa Muhamad bin Abdul Wahhab

telah mengkafirkan kaum muslimin yang tidak sepaham dengan keyakinan-keyakinanya yang

merupakan hasil inovasi (baca: Bid‘ah) pikirannya. Baik bid‘ah tadi berkaitan dengan konsep tauhid

sehingga muncul vonis pensyirikan Muhamad bin Abdul Wahhab terhadap kaum muslimin yang

tidak sejalan, maupun keyakinan lain ─eperti masalah tentang pengutusan Nabi, hari akhir/kiamat

dsb.nya─yang menyebabkan munculnya vonis kafir. (

Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman

43).

Marilah kita perhatikan ungkapan Muhamad bin Abdul Wahhab pendiri sekte Wahabisme berkaitan

dengan kaum muslimin di zamannya secara umum.

Muhamad bin Abdul Wahhab menyatakan:

?Banyak dari penghuni zaman sekarang ini yang tidak mengenal Tuhan Yang seharusnya

disembah, melainkan Hubal, Yaghus, Ya‟q, Nasr, al-Laata, al-Uzza dan Manaat. Jika mereka

memiliki pemahaman yang benar niscaya akan mengetahui bahwa kedudukan benda-benda yang

mereka sembah sekarang ini seperti manusia, pohon, batu dan sebagainya seperti matahari,

rembulan, Idris, Abu Hadidah ibarat menyembah berhala ? (Lihat:Ad-Durar as-Saniyah jilid 1

halaman 117).

Pada kesempatan lain

Muhamad bin Abdul Wahhab mengatakan: ?„erajat kesyirikan kaum kafir Quraisy tidak jauh berbeda dengan mayoritas masyarakat sekarang ini? ‟(Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 120). Dan pada kesempatan lain dia juga mengatakan: ‗Sewaktu masalah ini (tauhid dan syrik .red) telah engkau ketahui niscaya engkau akan mengetahui bahwa mayoritas masyarakat lebih dahsyat kekafiran dan kesyirikannya dari kaum musyrik yang telah diperangi oleh Nabi‟(Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 160).

Namun, setelah kita menela‘ah dengan teliti konsep tauhid versi pendiri sekte tersebut (Muhamad

bin Abdul Wahhab dalam kitab Tauhid-nya) ternyata banyak sekali kerancuan dan ketidakjelasan

dalam pendefinisan dan pembagian, apalagi dalam penjabarannya. Bagaimana mungkin konsep

tauhid rancu semacam itu akan dapat menjadi tolok ukur keislaman bahkan keimanan seseorang,

bahkan dijadikan tolok ukur pengkafiran?

Ya, konsep tauhid rancu tersebut ternyata dijadikan tolok ukur oleh Muhamad bin Abdul Wahhab

yang mengaku paling paham konsep tauhid pasca Nabisebagai neraca kebenaran, keislaman

dan keimanan seseorang sehingga dapat menvonis kafirbahkan musyrik setiap ulama (apalagi

orang awam) yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Sebagai dalil dari ungkapan tadi, Muhamad

bin Abdul Wahhab pernah menyatakan:

?Kami tidak mengkafirkan seorang pun melainkan dakwah

kebenaran yang sudah kami lakukan telah sampai kepadanya. Dan ia telah menangkap dalil kami

sehingga argumen telah sampai kepadanya. Namun jika ia tetap sombong dan menentangnya dan

bersikeras tetap meyakini akidahnya sebagaimana sekarang ini kebanyak- an dari mereka telah

kita perangi, dimana mereka telah bersikeras dalam kesyirikan dan mencegah dari perbuatan

wajib, menampakkan (men- demonstrasikan) perbuatan dosa besar dan hal-hal haram…?

(Lihat:

Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 halaman 234)

Di sini jelas sekali bahwa, Muhamad bin Abdul Wahhab telah menjatuhkan vonis kafir dan syirik di

atas kepala kaum muslimin dengan neraca kerancuan konsep Tauhid-Syirik versinya maka ia telah

‗emerangi‘ mereka. Bid‘ah dan kebiasaan buruk Muhamad bin Abdul Wahhab an-Najdi semacam

ini yang hingga saat ini ditaklidi dan dilestarikan oleh pengikut Wahabisme, tidak terkecuali di

Tanah Air.

Lantas apakah kekafiran dan kesyirikan yang dimaksud oleh Muhamad bin Abdul Wahhab dalam

ungkapan tersebut? Dengan singkat kita nyatakan bahwa yang ia maksud dari kesyirikan dan kekafiran tadi adalah; ―engingkar- an terhadap dakwah Wahabisme‖ Dan dengan kata yang lebih terperinci; ―eyakini terhadap hal-hal yang dinyatakan syirik dan kafir oleh Wahabisme seperti Tabarruk, Tawassul, Ziarah Kubur…sb.nya‖ Padahal, hingga sekarang ini, para pemuka Wahabi di negara asalnya sendiri– masih belum mampu menjawab banyak kritikan terhadap ajaran Wahabisme berkaitan dengan hal-hal tadi.

Penentangan Terhadap Muhammad Ibnu Abdul Wahhab

Para ulama al-Hanbali memberontak terhadap Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dan mengeluarkan

hukum bahwa akidahnya adalah sesat, menyeleweng dan batil. Tokoh pertama yang mengumumkan penentangan terhadapnya adalah ayahnya sendiri,

al-Syaikh `Abd al-Wahhab, diikuti oleh saudaranya, al-Syaikh Sulayman. Kedua-duanya adalah daripada madzhab al-Hanabilah. Al- Syaikh Sulayman menulis kitab yang berjudul al-Sawa`iq al-Ilahiyyah fi al-Radd `ala al-Wahabiyyah untuk menentang dan memeranginya.

Di samping itu tantangan juga datang dari sepupunya `

Abdullah bin Al-Husain, Mufti Makkah

Zaini Dahlan mengatakan:

al-Syaikh `Abd al-Wahhab

ayah Muhammad bin abdul wahab adalah seorang yang sholih dan merupakan seorang tokoh ahli ilmu, begitulah juga dengan saudaranya al-Syaikh Sulayman bin abdul wahab. kedua-duanya dari awal ketika Muhammad Abdul Wahhab mengikuti pengajarannya di Madinah al-Munawwarah telah mengetahui pendapat dan pemikiran Muhammad yang meragukan. Kedua-duanya telah mengeritik dan mencela pendapatnya dan mereka berdua turut memperingat kan orang ramai mengenai bahayanya pemikiran Muhammad..? ( Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, hal.357 ).

Sulayman bin Abdul Wahhab

membantahnya didalam kitabnya yang berjudul ash-Shawa’iq al-Ilahiyyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahabiyyah. Syeikh Sulaiman menulis sebagai berikut:

“Sejak zaman sebelum Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu pada zaman para imam Islam, belum

pernah ada yang meriwayatkan bahwa seorang imam kaum Muslimin mengkafirkan mereka,

mengatakan mereka murtad dan memerintahkan untuk memerangimereka. Belum pernah ada

seorangpun dari para imam kaum Muslimin yang menamakan negeri kaum Muslimin sebagai

negeri syirik dan negeri perang, sebagaimana yang anda Muhammad Abdul Wahhab katakan

sekarang. Bahkan lebih jauh lagi, anda mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkan perbuatan perbuatan ini, meskipun dia tidak melakukannya. Kurang lebih telah berjalan delapan ratus tahun

atas para imam kaum Muslimin, namun demikian tidak ada seorang pun dari para ulama kaum

Muslimin yang meriwayatkan bahwa mereka (para imam kaum Muslimin) mengkafirkan orang

Muslim. Demi Allah, keharusan dari perkataan anda ini ialah anda mengatakan bahwa seluruh

umat setelah zaman Ahmad (Ahmad bin Hanbal)

semoga rahmat Allah tercurah atasnya baik

para ulamanya, para penguasanya dan masyarakatnya semua mereka itu kafir dan murtad, Inna

lillahi wa inna ilaihi raji’un?. ( lihat Risalah Arba‟h Qawa‟d, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal.4)

Selanjutnya Sulaiman bin Abdul Wahhab juga berkata didalam halaman 4 ini sebagai berikut:

“Hari ini umat mendapat musibah dengan orang yang menisbahkan dirinya kepada Al-Qur’an dan

sunnah, menggali ilmu keduanya, namun tidak mempedulikan orang yang menentangnya. Jika dia

diminta untuk memperlihatkan perkataannya kepada ahli ilmu, dia tidak akan melakukannya.

Bahkan, dia mengharuskan manusia untuk menerima perkataan dan pemahamannya.Barangsiapa yang menentangnya, maka dalam pandangan nya orang itu seorang yang kafir. Demi Allah, pada dirinya tidak ada satupun sifat seorang ahli ijtihad. Namun demikian, begitu mudahnya

perkataannya menipu orang-orang yang bodoh. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ya Allah, berilah petunjuk orang yang sesat ini, dan kembalikanlah dia kepada kebenaran.”

Ulama golongan Wahabi/Salafi menyatakan bahwa Syeikh Sulaiman ini sudah tobat(

tobat dalam artian di jalan wahabi. pen) benarkah demikian ?

Ada salah seorang Wahabi menyatakan bahwa di akhir hayat Syeikh Sulaiman bin Abdul

Wahhab –saudara tua dan sekandung Muhammad bin Abdul Wahhab– telah bertaubat dan

menyesali segala yang telah dilakukannya yaitu penentangan keras terhadap ajaran adiknya,

Wahabisme. Penentangan itu dilakukannya dengan berupa nasehat (?) kepada Sang adik, baik

melalui lisanmaupun dengan menulis surat (risalah) yang selama ini dilakukannya atas keyakinan

ajaran Sang adik. Bukti-bukti konkrit, kuat dan ilmiah telah beliau sampaikan ke Sang adik, namun

apa daya, ikhtiyar menerima kebenaran bukan terletak pada tangan Syeikh Sulaiman bin Abdul

Wahhab.

Begitu juga Khairuddin az-Zarkali yang bermadzhab Wahabi asal Syria. Dalam kitab ―l-A‘lam‖jilid

3 halaman 130 dia menyatakan dalam karyanya tersebut;

?Ada yang menyatakan (?) bahwa Syeikh Sulaiman bin Abdul- Wahhab telah bertaubat dalam menentang pemikiran adiknya,Muhammad bin Abdul-Wahhab?. Namun sayangnya dalam buku ini dia (az-Zarkali) tidak berani

memberi isyarat tentang kebenaran pernyataan tobatnya Syeikh Sulaiman, apalagi meyakininya

dengan menyebut bukti-bukti konkrit. Hal itu karena memang ketiadaan bukti yang konkrit serta

otentik akan ke-taubat-an Syeikh Sulaiman dalam penentangannya atas ajaran adiknya.

Ada seorang penulis Wahabi lain asal Syria yang juga menjelaskan tentang pribadi Syeikh

Sulaiman bin Abdul Wahhab. Dia adalah

Umar Ridho Kahhalah pengarang kitab ?Mu‟am al-

Mu‟llifin? (lihat jilid 4 halaman 269, tentang Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab).

Cuman terjadi

perbedaan di antara kedua penulis diatas itu yaitu sewaktu menyebut tahun wafat Syeikh

Sulaiman. Al-Kahhalah menyebutkan bahwa Syeikh Sulaiman wafat tahun 1206 Hijriyah.

Sedangkan az-Zarkali menyebutkannya pada tahun1210 Hijriyah. Bagaimana mereka berdua bisa membuktikan secara konkrit tentang tobatnya Syeikh Sulaiman, sedankan funtuk mengetahui kapan wafatnya Syeikh ini mereka masih berbeda pendapat !

Mengenai karya-karya Syeikh Sulaiman yang menangkal ajaran adiknya (Wahabisme), Al-

Kahhalah dalam kitab

?Mu‟am al-Mu‟llifin? (jilid 4 halaman 269) menyebutkan judul kitab ?As-

Showa‟q al-Ilahiyah fi Madzhab al-Wahabiyah? (Petir-Petir Ilahi pada Madzhab Wahabisme).

Begitu juga yang dinyatakan dalam

kitab ?Idhoh al-Maknun? (lihat jilid 2 halaman 72). Dan di dalam

Kita bIdhoh al-Maknun ini juga menyinggung kitab karya Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab

lainnya yang berjudul

?Fashlul Khitab fi Madzhab Muhammad bin Abdul Wahhab? (Seruan Utama

pada Madzhab Muhammad bin Abdul Wahhab)

. Namun, surat panjang yang kemudian dicetak menjadi kitab yang sudah beberapa kali dicetak itu memiliki judul panjang; ?Fashlul Khitab min Kitab Rabbil Arbab, wa Hadits Rasulallah al-Malak al-Wahhab, wa kalaam Uli al-Albab fi Madzhab Muhammad bin Abdul Wahhab? (Seruan Utama dari Kitab Penguasa dari segala penguasa Allah swt. dan hadits utusan Maha Kuasa dan Maha Pemberi anugerah Muhammad saw. dan ungkapan pemilik akal sehat pada madzhab Muhammad bin Abdul Wahhab). Kitab ini telah dicetak di beberapa Negara; di India pada tahun 1306 H, di Turki pada tahun 1399 H, di Mesir, Lebanon dan beberapa Negara lainnya.

Padahal kalau kita baca,

kitab ?As-Showa‟q al-Ilahiyah fi Madzhab al-Wahabiyah? adalah

merupakan surat teguran Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab terhadap adiknya (Muhammad bin

Abdul Wahhab) secara langsung, namun kitabnya beliau yang berjudul

?Fashlul Khitab fi Madzhab

Muhammad bin Abdul Wahhab?

adalah surat yang ditujukan kepada “Hasan bin „dan”, salah satu

sahabat dan pendukung setia nan fanatik Muhammad bin Abdul Wahhab (pencetus Wahabisme).

Jadi ada dua karya yang berbeda dari Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, yang kedua-duanya

berfungsi sama yaitu mengeritik ajaran Wahabisme,walaupun keduanya berbeda dari sisi obyek

yang diajak bicara. Dan tidak benar jika dikatakan bahwa terjadi perubahan judul dari karya beliau

tadi, karena adanya dua buku dengan dua judul yang berbeda tersebut.

Kedua surat itu walaupun memiliki perbedaan dari sisi obyek yang diajak bicara (satu buat sang

adik, dan satu lagi buat pendukung fanatik buta adiknya), namun memiliki kesamaan dari sisi

kekuatan dan keilmiahan argumentasinya, baik argument dari al-Qur‘an, Hadits maupun dari para

Salaf Sholeh. Tentu sebagai seorang kakak, Syeikh Sulaiman tahu betul sifat dan watak adiknya

yang hidup bersamanya dari semenjak kecil. Dia paham bahwa apa yang dilakukannya akan siasia,

namun apa yang dilakukannya itu tidak lain hanya sebagai argumentasi pamungkas (Itmam al-

Hujjah) akan segala perbuatan adiknya. Sehingga ia berpikir, dengan begitu ia tidak akan dimintai

pertanggung-jawaban lagi oleh Allah, kelak di akherat, sebagai seorang kakak dan seorang ulama

yang dituntut harus sigap dalam melihat dan menyikapi segala penyimpangan, berdasarkan

konsep ―mar Makruf Nahi Munkar‖yang diperintahkan (diwajibkan) Islam.

Secara realita, usaha Syeikh Sulaiman tidak memberi hasil. Muhammad bin Abdul Wahhab

tetap menjadi Muhammad bin Abdul Wahhab Sang pencetus Wahabisme, Syeikhul Wahabiyah.

Apalagi dia merasa di atas angin setelah

mendapat dukungan penuh Kerajaan Saud (Saudi

Arabia)

pada waktu itu, dari sisi harta dan kekuatan. Sedang sejarah telah menulis bahwa

kekuatan Saud tadi didapat dari dukungan kerajaan Inggris, penjajah Jazirah Arab kala itu

dalam memenangkan Saud di atas semua kabilah Arab yang menentang keberadaan imperialis

Inggris kala itu. Muhammad bin Abdul Wahhab tidak lagi bisa mendengar (tuli) dan melihat (buta) akan kebenaran argumen al-Qur‘an, hadits dan ungkapan Salaf Sholeh yang keluar dari siapapun,termasuk Sang kakak yang tergolong salah seorang ulama madzhab Hanbali di zamannya.

Segala usaha Syeikh Sulaiman terhadap Sang adik dan pendukung setia adiknya tadi ibarat apa yang pernah Allah swt. singgung dalam al-Qur‘an yang berbunyi; ―esungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk‖(QS al-Qoshosh: 56). Karena orang-orang semacam itu (Muhammad bin Abdul Wahhab beserta pengikut setianya) ibarat apa yang telah disinggung dalam al-Qur’an:

―aka apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu

memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya) dan kepada orang yang tetap dalam

kesesatan yang nyata?‖(QS az-Zukhruf: 40). Atau ayat: ―pakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan‖(QS Yunus 43).

Kesimpulan dari hal diatas jelas sekali bahwa, kebenaran pernyataan yang menyatakan bahwa Syeikh

Sulaiman bin Abdul Wahhab telah bertobat merupakan pernyataan yang tidak berdasar, karena

tidak ada bukti konkrit dan otentik akan kebenaran hal itu, seperti bukti tertulis karya Syeikh

Sulaiman sendiri atau paling tidak orang yang sezaman dengan beliau. Yang ada hanya pengakuan-pengakuan dari para ulama Wahabi kontemporer sendiri (yang tidak mengetahui ihwal

meninggalnya Syeikh Sulaiman, apalagi hidupnya) yang menyatakan bahwa Syeikh Sulaiman

telah tobat dan bahkan telah mengikuti bahkan menyokong sekte ajaran adiknya. Ini adalah pembohongan yang diatas namakan Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab. Semua itu mereka lakukan tidak lain hanya untuk membersihkan pengaruh negatif akibat pengingkaran kakak

kandung pencetus Wahabisme yang akan memberikan image negatif terhadap perkembangan

sekte Wahabisme ini.Jadi, atas dasar itu jangan heran jika pengikut Wahabi seperti Khairuddin az-Zarkali tidak berani dengan terang-terangan bahkan cenderung ragu dalam menghukumi kebenarannya. Apalagi ditambah dengan kenyataan yang ada di luar bahwa para pengikut sekte Wahabi ini –terkhusus para ulamanya yang bera a di Saudi, Yaman dan Kuwait– sangat membenci Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab.MasyaAllah.

Jika Syeikh Sulaiman benar-benar telah bertaubat, kenapa ada kesepakatan (terkhusus antar

ulama Wahabi beserta para santri mereka) untuk mencela dan menghina ulama madzhab Hanbali

(salah satu madzhab Ahlussunah wal Jama‘ah) ini? Jika madzhab Hanbali (yang metode

madzhabnya banyak diadopsi oleh Wahabi) saja diolok-olok, bagaimana dengan madzhab lain

Ahlussunah seperti madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi‘i? Maka jangan heran jika para pengikut

Wahabi akhirnya mudah mengolok-olok madzhab-madzhab resmi Ahlussunah wal Jama‘ah.

Layakkah mereka mengaku sebagai Ahlus-sunah wal Jama‘ah?

Nama-nama dan judul kitab golongan Wahabi kontemporer (tidak sezaman bahkan hidup jauh pasca Syeikh Sulaiman wafat) yang menulis dan mengarang-ngarang tentang taubatnya Syekh Sulaiman bin Abdul Wahab dari penentangan ajaran Wahabisme (sekte bikinan adiknya) adalah:

―bnu Ghannam (Tarikh Nejed 1/143); Ibnu Bisyr (Unwan Majd hal. 25); Syaikh Mas‘ud An Nadawi

(Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlih Mazhlum 48-50); Syaikh Abdul Aziz bin Baaz

(Ta‘liq Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 95); Syaikh Ahmad bin Hajar Alu Abu Thami

(Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 30); Syaikh Muhammad bin Sa‘ad Asy Syuwa‘ir

(Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab Syaikh muftara ‗laihi lihat majalah Buhuts Islamiyah edisi

60/1421H); Syaikh Nashir Abdul Karim Al Aql (Islamiyah la Wahabiyah hal. 183); Syaikh

Muhammad As Sakakir (Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab wa Manhajuhu fi Dakwah hal.

126); Syaikh Sulaiman bin Abdurrahman Al Huqail (Hayat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

hal. 26. yang diberi kata pengantar oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh) dan lain-lain.‖

Jika kita lihat masa hidup mereka semua, maka bagaimana mungkin mereka akan bisa memberi

kesaksian atas pertaubatan Syeikh Sulaiman sedang mereka tidak sezaman bahkan jauh dari

zaman Syeikh Sulaiman wafat? Mungkinkah (secara logis dan ilmiah) orang-orang itu mampu

memberikan secara langsung atau tanpa merujuk orang-orang yang sezaman dengan Syeikh

Sulaiman?? tindakan tindakan Muhamad bin Abdul Wahhab yang sombong,riya`,pendengki,pemarah dan sekaligus pembunuh di balik akidahnya yang otoriter dan sepihak menuai kritikan tidak hanya dari Ayah dan saudaranya tetapi juga para ulama modren dan pemikir hebat ternama diseluruh dunia di antaranya..:

Sarjana ahli hadits India yang bernama Habib al-Rahman al-A`zami telah menulis buku yang

berjudul

al-Albani Shudhudhuh wa Akhta’uh (Kekhilafan dan Kesalahan Al-Albani) dalam empat

jilid.

Sarjana Syria yang bernama Muhammad Sa`id Ramadan al-Buuti menulis dalam dua buku

klasiknya yang berjudul

al-Lamadhhabiyya Akhtaru Bid`atin Tuhaddidu al-Shari`a al-Islamiyya

(“Not Following A School of Jurisprudence is the Most Dangerous Innovation Threatening Islamic

Sacred Law”) dan

al-Salafiyya Marhalatun Zamaniyyatun Mubaraka La Madhhabun Islami (“The

`Way of the Early Muslims’ Was A Blessed Historical Epoch, Not An Islamic School of Thought”).

Sarjana hadits dari Marokko yang bernama `Abd Allah ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-Ghumari

buku-bukunya yang berjudul

e Irgham al-Mubtadi` al-Ghabi bi Jawaz al-Tawassul bi al-Nabi fi al-

Radd `ala al-Albani al-Wabi;

(“The Coercion of the Unintelligent Innovator with the Licitness of

Using the Prophet as an Intermediary in Refutation of al-Albani the Baneful”),

al-Qawl al-Muqni` fi

al-Radd `ala al-Albani al-Mubtadi`

(“The Persuasive Discourse in Refutation of al-Albani the

Innovator”), dan

Itqan al-Sun`a fi Tahqiq Ma`na al-Bid`a (“Precise Handiwork in Ascertaining the

Meaning of Innovation”).

Sarjana hadits dari Marokko yang bernama `Abd al-`Aziz ibn Muhammad ibn al-Siddiq al-

Ghumar

i bukunya berjudul Bayan Nakth al-Nakith al-Mu`tadi (“The Exposition of the Treachery of

the Rebel”).

Sarjana Hadits dari Syria yang bernama `Abd al-Fattah Abu Ghudda bukunya yang berjudul

Radd `ala Abatil wa Iftira’at Nasir al-Albani wa Sahibihi Sabiqan Zuhayr al-Shawish wa

Mu’azirihima

(“Refutation of the Falsehoods and Fabrications of Nasir al-Albani and his Former

Friend Zuhayr al-Shawish and their Supporters”).

Sarjana hadits dari Mesir yang bernama Muhammad `Awwama bukunya berjudul Adab al-

Ikhtilaf

(“The Proper Manners of Expressing Difference of Opinion”).

Sarjana Mesir yang bernama Mahmud Sa`id Mamduh buku-bukunya berjudul Wusul al-Tahani

bi Ithbat Sunniyyat al-Subha wa al-Radd `ala al-Albani

(“The Alighting of Mutual Benefit and

Confirmation that the Dhikr-Beads are a Sunna in Refutation of al-Albani”) dan Tanbih al-Muslim ila

Ta`addi al-Albani `ala Shohih Muslim (“Warning to the Muslim Concerning al-Albani’s Attack on

Shohih Muslim”).

Sarjana hadits dari Saudi Arabi yang bernama Isma`il ibn Muhammad al-Ansar buku-bukunya

yang berjudul

Ta`aqqubat `ala “Silsilat al-Ahadith al-Da`ifa wa al-Mawdu`a” li al-Albani (“Critique of

al-Albani’s Book on Weak and Forged Hadiths”),

Tashih Sholat al-Tarawih `Ishrina Rak`atan wa al-

Radd `ala al-Albani fi Tad`ifih

(“Establishing as Correct the Tarawih Sholat in Twenty Rak`as and

the Refutation of Its Weakening by al-Albani”), dan

Ibahat al-Tahalli bi al-Dhahab al-Muhallaq li al-

Nisa’ wa al-Radd `ala al-Albani fi Tahrimih

(“The Licitness of Wearing Gold Jewelry for Women

Contrary to al-Albani’s Prohibition of it”). –

Sarjana Syria Badr al-Din Hasan Diab bukunya berjudul Anwar al-Masabih `ala Zulumat al-

Albani fi Sholat al-Tarawih

(“Illuminating the Darkness of al-Albani over the Tarawih Prayer”).

Siapakah Salafi/Wahabi ? [87]

Direktur dari Pensubsidian Keagamaan (The Director of Religious Endowments) di Dubai, yang

bernama

`Isa ibn `Abd Allah ibn Mani` al-Himyari buku bukunya yang berjudul al-I`lam bi Istihbab

Shadd al-Rihal li Ziyarati Qabri Khayr al-Anam

(“The Notification Concerning the Recommendation

of Travelling to Visit the Grave of the Best of Creation) dan

al-Bid`a Al-Hasana Aslun Min Usul al-

Tashri

` (“The Excellent Innovation Is One of the Sources of Islamic Legislation”).

Menteri Agama dan Subsidi dari Arab Emiraat (The Minister of Islamic Affairs and Religious

Endowments in the United Arab Emirates) yang bernama

Shaykh Muhammad ibn Ahmad al-

Khazraji

yang menulis artikel al-Albani : Tatarrufatuh (“Al-Albani’s Extremist Positions”).

Sarjana dari Syria yang bernama Firas Muhammad Walid Ways dalam edisinya yang berjudul

Ibn al-Mulaqqin’s Sunniyyat al-Jumu`a al-Qabliyya

(“The Sunna Prayers That Must Precede Sholat

al-Jumu`a”).

Sarjana Syria yang bernama Samer Islambuli bukunya yang berjudul al-Ahad, al-Ijma`, al-

Naskh.

Sarjana Jordania yang bernama As`ad Salim Tayyim bukunya yang berjudul Bayan Awham al-

Albani fi Tahqiqihi li Kitab Fadl al-Sholat `ala al-Nabi.

Sarjana Jordania Hasan `Ali al-Saqqaf menulis dua jilid yang berjudul Tanaqudat al-Albani al-

Wadiha fi ma Waqa`a fi Tashih al-Ahadith wa Tad`ifiha min Akhta’ wa Ghaltat

(“Albani’s Patent

Self-Contradictions in the Mistakes and Blunders He Committed While Declaring Hadiths to be

Sound or Weak”), dan tulisan-tulisannya yang lain

ialah Ihtijaj al-Kha’ib bi `Ibarat man Idda`a al-

Ijma` fa Huwa Kadhib

(“The Loser’s Recourse to the Phrase: `Whoever Claims Consensus Is a

Liar!'”),

al-Qawl al-Thabtu fi Siyami Yawm al-Sabt (“The Firm Discourse Concerning Fasting on

Saturdays”),

al-Lajif al-Dhu`af li al-Mutala`ib bi Ahkam al-I`tikaf (“The Lethal Strike Against Him

Who Toys with the Rulings of I`tikaf),

Shohih Sifat Sholat al-Nabi Sallallahu `alayhi wa Sallam

(“The Correct Description of the Prophet’s Prayer “),

I`lam al-Kha’id bi Tahrim al-Qur’an `ala al-

Junub wa al-Ha’id

(“The Appraisal of the Meddler in the Interdiction of the Qur’an to those in a

State of Major Defilement and Menstruating Women”),

Talqih al-Fuhum al-`Aliya (“The Inculcation

of Lofty Discernment”), dan

Shohih Sharh al-`Aqida al-Tahawiyya (“The Correct Explanation of al-

Tahawi’s Statement of Islamic Doctrine”).

Masih banyak ulama berbeda madzhab yang mengeritik kekhilafan dan kesalahan Syekh Al-

Albani dan pengikut madzhab Wahabi termasuk didalamnya Dinasti Arab, yang tidak tercantum disini. Kalau kita baca diatas,banyak ulama dari bermacam-macam madzhab (Hanafi, Maliki, Syafii

dan Hanbali) mengeritik kekhilafan dan kesalahan ulama madzhab Wahabi, khususnya Syeikh al-Albani, maka kita akan bertanya sendiri apakah bisa beliau ini pantas dikatagorikan sebagai Imam Muhadditsin (Imamnya para ahli hadits) pada zaman sekarang ini sebagaimana yang dijuluki oleh sebagian golongan Salafi/Wahabi ? Memang ada ulama-ulama yang memuji Syekh Al-Albani ini dan memuji ulama gologan Salafi/Wahabi lainnya, tapi ulama-ulama yang memuji ini semua- nya semadzhab dan

sejalan dengan golongan Wahabi/Salafi.coba kita perhatikan dengan seksama.

Syekh Muhammad Nashirudin al- Albani

Pada akhir-akhir ini diantara ulama yang dibanggakan dan dijuluki oleh sebagian golongan

Wahabi/Salafi sebagai Imam Muhadditsin (Imam para ahli hadits) yaitu Syeikh Muhammad

Nashiruddin al-Albani karena menurut mereka ilmunya tentang hadits bagaikan samudera tanpa bertepi. Beliau lahir dikota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M. Albani Adalah generasi penerus Muhammad bin Abdul Wahab Pendiri Wahabi

yang dilahirkan di perkampungan `Uyainah bagian selatan kota Najd ( Saudi Arabia) tahun 1703 masehi. Begitu juga Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baz di Saudi Arabia. Bagi golongan Salafi Wahabi Al-Albani sederajad dengan Imam Bukhori pada zamannya. Sehingga semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan dan sebagainya, oleh beliau ini, sudah pasti lebih mendekati kebenaran.ini dapat kita lihat dari beberapa Hadist termasuk hadist sahih Bukhari yang ia lemahkan bahkan Dlaif jika dianggap menyalahi dan memepersulit ruang gerak golongan Wahabi.

Hasil penelitian dan penemuan ulama-ulama ahli hadits dari berbagai madzhab diantaranya dari Jordania yang bernama Hasan Ali Assegaf dalam bukunya yang mengeritik Al-Albani ialah:

Tanaqudlaat Albany al-Waadlihah fiima waqo‟ fi tashhihi al-Ahaadiits wa tadl‟ifiha min akhtho‟wa gholath(Kontradiksi Al-Albani yang nyata terhadap penshahihan hadits-hadits dan pendhaifannya yang salah dan keliru ) tentang banyaknya kontradiksi dari hadits-hadits dan catatan-catatan yang dikemukakan oleh al-Albani ini jumlahnya lebih dari 1200 hadits !! Contoh-contoh kesalahan Syeikh Albani ini yaitu umpamanya disatu halaman atau bukunya

mengatakan hadits ..Lemah tapi dihalaman atau dibuku lainnya mengatakan hadits (yang samaitu) ….Shohih atau Hasan. Begitu juga beliau disatu buku atau halaman mengatakan bahwa perawi…. adalah tidak Bisa Dipercaya banyak membuat kesalahan dan sebagainya, tapi dibuku atau halaman lainnya beliau mengatakan bahwa perawi (yang sama ini) Dapat Dipercaya dan Baik. Begitu juga beliau disatu halaman atau bukunya memuji-muji perawi… atau ulama… tapi dibuku atau halaman lainnya beliau ini mencela perawi atau ulama (yang sama tersebut).

Juga diantara ulama-ulama pengeritik Al-Albani ini ada yang berkata; Kontradiksi tentang hadits Nabi saw. itu atau perubahan pendapat terdapat juga pada empat ulama pakar yang terkenal (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hanbali) atau ulama lainnya ! Perubahan pendapat empat ulama ini biasanya yang berkaitan dengan pendapat atau ijtihadnya sendiri.Misalnya; Disalah satu kitab mereka membolehkan suatu masalah sedangkan pada kitab lainnya memakruhkan atau mengharamkanmasalah ini atau sebaliknya. Perubahan pendapat ulama ini kebanyakan tidak ada sangkut pautnya dengan hadits yang mereka kemukakan sebelum dan sesudahnya, tapi kebanyakan yang bersangkutan dengan pendapat atau ijtihadnya sendiri waktu mengartikan hadits yang bersangkutan tersebut.

Dan seandainya diketemukan adanya kontradiksi mengenai hadits yang disebutkan ulama ini pada kitabnya yang satu dengan kitabnya yang lain, maka kontradiksi ini tidak akan kita dapati melebihi dari 10 hadits. Jadi bukan ratusan yang diketemukan !

Tapi yang lebih aneh lagi ulama golongan Salafi (baca:Wahabi) tetap mempunyai keyakinan tidak ada kontradiksi atau kesalahandalam hadits yang dikemukakan oleh al-AlBani tersebut

tapi lebih merupakan ralat, koreksi atau rujukan. Sebagaimana alasan yang mereka ungkapkan sebagai berikut; umpama al-Albani menetapkan dalam kitabnya suatu hadits kemudian dalam kitab beliau lainnya menyalahi dengan kitab yang pertama ini bisa dikatakan bahwa dia meralat atau merujuk hal tersebut! Alasan ini baik oleh ulama maupun awam (bukan ulama) tidak bisa diterima baik secara aqli (akal)maupun naqli (menurut nash). Seorang yang dijuluki ulama pakar oleh sekte Wahabi dan sebagai Imam Muhadditsin karena ilmu haditsnya seperti samudra yang tidak bertepian, seharusnyasebelum menulis satu hadits, beliau harus tahu dan meneliti lebih dalam apakah hadits yang akan ditulis tersebut shohih atau lemah, terputus dan sebagai- nya. Sehingga tidak memerlukan ralatan

yang begitu banyak lagi pada kitabnya yang lain. Apalagi ralatan tersebut yang diketemukan para ulama bukan puluhan tapi ratusan!!

Sebenarnya yang bisa dianggap sebagai ralatan yaitu bila sipenulis menyatakan dibukunya

sebagai berikut; hadits ..…ang saya sebutkan pada kitab .…sebenarnya bukan sebagai hadits …..(dhoif, maudhu‘ dan sebagainya) tapi sebagai hadits…… ( shohih dan sebagainya). Dalam katakata semacam ini jelas si penulis telah mengakui kesalahannya serta meralat pada kitabnya yang lain. Selama hal tersebut tidak dilakukan maka ini berarti bukan ralatan atau rujukan tapi kesalahan dan kekurang telitian si penulis.

Golongan Salafi/Wahabi ini bukan hanya tidak mau menerima keritikan ulama-ulama yang tidak sependapat dengan keyakinan ulama mereka, malah justru sebaliknya mengecam pribadi ulamaulama yang mengeritik ini sebagai orang yang bodoh, golongan zindik, tidak mengerti bahasa Arab, dan lain sebagainya. Mereka juga menulis hadits-hadits Nabi saw. dan wejangan ulama ulamanya

untuk menjawab kritikan initetapi sebagian isinya tidak ada sangkut pautnya dengan kritikan yang diajukan oleh para ulama madzhab, selain madzhab Salafi (baca:Wahabi) ini!!

Alangkah baiknya kalau golongan Salafi ini tidak mencela siapa/ bagaimana pribadi ulama

pengeritik itu, tapi mereka langsung membahas atau menjawab satu persatu dengan dalil yang aqli dan naqli masalah yang dikritik tersebut. Sehingga bila jawabannya itu benar maka sudah pasti ulama-ulama pengeritik ini dan para pembaca akan menerima jawaban golongan Wahabi dengan baik. Ini tidak lain karena ke egoisan dan kefanatikan pada ulamanya sendiri sehingga mereka tidak mau terima semua keritikan-keritikan tersebut, dan mereka berusaha dengan jalan apapun untuk membenarkan riwayat-riwayat atau nash baik yang dikutip oleh al-Albani maupun ulama mereka lainnya. Sayang sekali golongan Salafi ini merasa dirinya yang paling pandai memahami ayat al-Qur‘an dan Sunnah Rasulallah saw., paling suci, dan merasa satu-satunya golongan yang memurnikan agama Islam dan sebagainya. Dengan demikian mudah mensesatkan, mensyirikkan sesama muslimin yang tidak sepaham dengan pendapatnya.

Mari kita sekarang meneliti sebagian pilihan/seleksi isi buku Syeikh Segaf tentang kesalahankesalahan al-Albani. Setiap nomer yang dalam bahasa Inggris selesai langsung penulis terjemahkan (kurang lebih artinya) kedalam bahasa Indonesia, insya Allah buat pembaca mudah untuk menelitinya. Jik ingin membaca seluruh isi buku Syeikh Seggaf ini dan berminat untuk memiliki buku aslinya bisa menulis surat pada alamat: IMAM AL-NAWAWI HOUSE POSTBUS 925393 AMMAN, JORDAN. (Biaya untuk jilid 1 ialah US$ 4,00 belum termasuk ongkos pengiriman (via kapal laut) dan biaya untuk jilid 2 ialah US$ 7, 00 belum termasuk ongkos pengiriman (via kapal laut). Biaya bisa selalu berubah.

AL-ALBANI’S WEAKENING OF SOME OF IMAM BUKHARI AND MUSLIM’S AHADITH

Al-Albani melemahkan beberapa hadits dari Imam Bukhori dan Imam Muslim

Al-Albani has said in “Sharh al-Aqeedah at-Tahaweeah, pg. 27-28” (8th edition, Maktab al-Islami)by Shaykh Ibn Abi al-Izz al-Hanafi (Rahimahullah), that any Hadith coming from the Shohih collections of al-Bukhari and Muslim is Shohih, not because they were narrated by Bukhari and Muslim, but because the Ahadith are in fact correct. But he clearly contradicts himself, since he hasweakened Ahadith from Bukhari and Muslim himself! Now let us consider this information in thelight of elaboration :-

Syekh Al-Albani telah berkata didalam Syarh Al-Aqidah at-Tahaweeah hal.27-28 cet.ke 8 Maktab Al-Islami oleh Sjeik Ibn Abi Al-Izz Al-Hanafi (Rahimahullah). ―adits-hadits shohih yang dikumpulkan oleh Bukhori dan Muslim bukan karena diriwayatkan oleh mereka tapi karena haditshadits tersebut sendiri shohih‖ ! Tetapi dia (Albani) telah nyata berlawanan dengan omongannya sendiri karena pernah melemahkan hadits dari dua syeikh tersebut. Mari kita lihat beberapa hadits dari Imam Bukhori dan Imam Muslim yang dilemahkan oleh Syekh al-Albani keterangan berikut ini

:

Selected translations from volume 1.

Terjemahan-terjemahan yang terpilih dari jilid (volume) 1.

No.1: (*Pg. 10 no. 1 ) Hadith: The Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) said: “Allah says I will be an opponent to 3 persons on the day of resurrection: (a) One who makes a covenant in my Name but he proves treacherous, (b) One who sells a free person (as a slave) and eats the price (c) And one who employs a laborer and gets the full work done by him, but doesn’t pay him his wages.” [Bukhari no 2114-Arabic version, or see the English version 3/430 pg 236]. Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in “Daeef al-Jami wa Z iyadatuh, 4/111 no. 4054”. Little does he know that this Hadith has been narrated by Ahmad and Bukhari from Abu Hurayra (Allah be pleased with him) !!

No.1: (Hal. 10 nr.1) Sabda Rasulallah saw. bahwa Allah swt.berfirman: Aku musuh dari 3 orang pada hari kebangkitan ; a) Orang yang mengadakan perjanjian atas NamaKu, tetapi dia sendiri melakukan pengkhianatan atasnya b) Orang yang menjual orang yang merdeka sebagai budak dan makan harta hasil penjualan tersebut c) orang yang mengambil buruh untuk dikerjakan dan bekerja penuh untuk dia, tapi dia tidak mau membayar gajihnya. (Bukhori no.2114 dalam versi bahasa Arab atau dalam versi bahasa Inggris 3/430 hal. 236). Al-Albani berkata dalam Dhaif Aljami wa Ziyadatuh 4/111 nr. 4054. bahwa hadits ini lemah. Dia (Al-Albani) memahami hanya sedikit tentang hadits, hadits diatas ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Bukhori dari Abu Hurairah ra.

No.2: (*Pg. 10 no. 2 ) Hadith: “Sacrifice only a grown up cow unless it is difficult for you, in whichcase sacrifice a ram.” [Muslim no. 1963-Arabic edition, or see the English version 3/4836 pg.1086]. Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 6/64 no. 6222.”Although this Hadith has been narrated by Imam’s Ahmad, Muslim, Abu Dawood, Nisai and Ibn Majah from Jaabir (Allah be pleased with him) !!

No.2: (Hal. 10 nr.2) Hadits : ―orbanlah satu sapi muda kecuali kalau itu sukar buatmu maka korbanlah satu domba jantan‖( Muslim nr.1963 dalam versi bahasa Arab yang versi bahasa Inggris 3/4836 hal.1086). Al-Albani berkata Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 6/64 nr. 6222 bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud, Nasa‘i dan Ibnu Majah dari Jabir ra.

No.3: (*Pg. 10 no. 3 ) Hadith: “Amongst the worst people in Allah’s sight on the Day of

Judgement will be the man who makes love to his wife and she to him, and he divulges her secret.” [Muslim no. 1437- Arabic edition]. Al-Albani claims that this Hadith is DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 2/197 no. 2005.” Although it has been narrated by Muslim from Abi Sayyed (Allah be pleased with him) !!

No.3: (Hal.10 nr.3) Hadits: ‗ermasuk orang yang paling buruk dan Allah swt. akan mengadilinya pada hari pembalasan yaitu suami yang berhubung- an dengan isterinya dan isteri berhubungan dengan suaminya dan dia menceriterakan rahasia isterinya(pada orang lain) ‗(Muslim nr.1437 penerbitan dalam bahasa Arab). Al-Albani menyatakan dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/197 nr. 2005 bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Sayyed ra.

No.4: (*Pg. 10 no. 4 ) Hadith: “If someone woke up at night (for prayers) let him begin his prayers with 2 light rak’ats.” [Muslim no. 768]. Al-Albani stated that this Hadith was DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 1/213 no. 718.” Although it is narrated by Muslim and Ahmad from Abu Hurayra (may Allah be pleased with him) !!

No.4: (Hal.10 nr.4) Hadits: ―ila seorang bangun malam (untuk sholat), maka mulailah sholat dengan 2 raka‘at ringan‖(Muslim nr. 768). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 1/213 nr. 718 menyatakan bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah.

No.5: (*Pg. 11 no. 5 ) Hadith: “You will rise with shining foreheads and shining hands and feet on the Day of Judgement by completing Wudhu properly. . . . . . . .” [Muslim no. 246]. Al-Albani claims it is DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 2/14 no. 1425.” Although it has been narrated by Muslim from Abu Hurayra (Allah be pleased with him) !!

No.5: (Hal.11 nr. 5) Hadits: ‗ngkau akan naik keatas dihari kiamat dengan cahaya dimuka,

cahaya ditangan dan kaki dari bekas wudu‘ yang sempurna‘ (Muslim nr 246). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/14 nr. 1425 menyatakan bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah.

No.6: (*Pg. 11 no. 6 ) Hadith: “The greatest trust in the sight of Allah on the Day of Judgement isthe man who doesn’t divulge the secrets between him and his wife.” [Muslim no’s 124 and 1437] Al-Albani claims it is DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 2/192 no. 1986.” Although it has been narrated by Muslim, Ahmad and Abu Dawood from Abi Sayyed (Allah be pleased with him) !!

No.6: (Hal.11 nr. 6) Hadits: ‗rang yang dimuliakan disisi Allah pada hari pembalasan (kiamat) ialah yang tidak membuka rahasia antara dia dan isterinya‘. (Muslim nr.124 dan 1437). Al-Albani dalam Dhaeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/192 nr. 1986menyatakan bahwa hadits ini lemah.Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Abu Daud dari Abi Sayyed.

No.7: (*Pg. 11 no. 7 )Hadith: “If anyone READS the last ten verses of Surah al-Kahf he will be saved from the mischief of the Dajjal.” [Muslim no. 809]. Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 5/233 no. 5772.”

NB- The word used by Muslim is MEMORIZED and not READ as al-Albani claimed; what an awful mistake! This Hadith has been narrated by Muslim, Ahmad and Nisai from Abi Darda (Allah be pleased with him)!! (Also recorded by Imam Nawawi in “Riyadh us-Saliheen, 2/1021” of the English ed’n).

No.7: (Hal.11 nr.7) Hadits: ‗iapa yang membaca 10 surah terakhir dari Surah Al-Kahfi, akan

dilindungi dari kejahatan Dajjal ‗(Muslim nr. 809). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh,5/233 nr. 5772 menyatakan hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan

oleh Muslim, Ahmad dan Nasa‘i dari Abi Darda ra. juga dikutip oleh Imam Nawawi dalam Riyadhos Sholihin 2/1021 dalam versi Inggris).

NotaBene: Didalam riwayat Muslim disebut Menghafal (10 surat terakhir Al-Kahfi) bukan Membaca sebagaimana yang dinyatakan Al-Albani, ini adalah kesalahan yang nyata !

No.8: (*Pg. 11 no. 8 ) Hadith: “The Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) had a horse called al-Laheef.” [Bukhari, see Fath al-Bari of Hafiz Ibn Hajar 6/58 no. 2855]. But Al-Albani said that this Hadith was DAEEF in “Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 4/208 no. 4489.” Although it has been narrated by Bukhari from Sahl ibn Sa’ad (Allah be pleased with him)!!! Shaykh Saqqaf said: “This is only anger from anguish, little from a lot and if it wasn’t for the fear of lengthening and boring the reader, I would have mentioned many other examples from al-Albani’s books whilst reading them.Imagine what I would have found if I had traced everything he wrote ?”AL-ALBANI’S INADEQUACY IN RESEARCH (* Vol. 1 pg. 20) Shaykh Saqqaf said: “The strangeand amazing thing is that Shaykh l-Albani misquoted many great Hadith scholars and disregards them by his lack of knowledge, either directly or indirectly! He crowns himself as an unbeatable

Siapakah Salafi/Wahabi ? [68]source and even tries to imitate the great scholars by using such terms like “Lam aqif ala sanadih”,which means “I could not find the chain of narration”, or using similar phrases! He also accusessome of the best memorizers of Hadith for lack of attention, even though he is the one bestdescribed by that !”

No. 8 (Hal.11 nr. 8) Hadits: Rasulallah saw. mempunyai seekor kuda bernama Al Laheef‘‘ (Bukhori,lihat Fath Al-Bari oleh Hafiz ibn Hajar 6/58 nr.2855). Tapi Al-Albani dalam “Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 4/208 nr. 4489 berkata bahwa hadits ini lemah. Walaupun diriwayatkan oleh Bukhori dari Sahl Ibn Sa‘ad ra.Syeikh Segaf berkata : Ini hanya marah dari sakit hati ! Kalau tidak karena takut terlalu panjang dan pembaca menjadi bosan karenanya saya akan sebutkan banyak contoh-contoh dari buku buku Al-Albani …………..)

AL-ALBANI TIDAK SESUAI DALAM PENYELIDIKANNYA dalam bukunya jilid 1 hal.20) Syeikh Seggaf berkata: ‗

Sangat heran dan mengejutkan, bahwa Syeikh Al-Albani menyalahkan dan menolak hadits-hadits yang banyak diketengahkan oleh ulama-ulama pakar ahli hadits baik secara langsung atau tidak secara langsung, tidak lain semuanya ini karena kedangkalan ilmu Al-Albani ! . Dia mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia sering meniru kata-kata para ulama pakar (dalam menyelidiki suatu hadits) ‗am aqif ala sanadih‘ artinya ‗Saya tidak menemukan rantaian sanadnya‘ atau dengan kata-kata yang serupa. Dia juga menyalahkan beberapa ulama pakar penghafal Hadits yang terbaik untuk kurang perhatian, karena dia sendiri merasa sebagai penulis yang paling baik.

Now for some examples to prove our point:

Beberapa contoh-contoh bukti yang dimaksud berikut ini :

No.9: (* Pg. 20 no. 1 ) Al-Albani said in “Irwa al-Ghalil, 6/251 no. 1847” (in connection to a narration from Ali): “I could not find the sanad.” Shaykh Saqqaf said: “Ridiculous! If this al-Albani was any scholar of Islam, then he would have known that this Hadith can be found in “Sunan al-Bayhaqi,7/121″ :- Narrated by Abu Sayyed ibn Abi Amarah, who said that Abu al-Abbas Muhammad ibn Yaqoob who said to us that Ahmad ibn Abdal Hamid said that Abu Usama from Sufyan from Salma ibn Kahil from Mu’awiya ibn Soayd who said, ‘I found this in my fathers book from Ali (Allah be pleased with him).'”

No.9: (Hal. 20 nr.1) Al-Albani dalam “Irwa Al-Ghalil, 6/251 nr. 1847” berkata: (riwayat dari Ali): ‗aya tidak menemukan sanadnya‖Syeikh Seggaf berkata: ‗

Menggelikan! Bila Al-Albani ini orang yang terpelajar dalam Islam maka dia akan tahu bahwa hadits ini ada dalam Sunan Al-Baihaqi 7/121 diriwayatkan dari Abi Sayyed ibn Abi Amarah yang katanya bahwa Abu Al-Abbas Muhammad ibn Yaqub berkata pada kami bahwa Ahmad ibn Abdal Hamid berkata, bahwa Abu Usama dari Sufyan dari Salma ibn Kahil dari Mu‟wiyah ibn Soayd berkata, Saya menemukan ini dalam buku ayah saya dari Ali kw.

No.10: (* Pg. 21 no. 2 ) Al-Albani said in ‘Irwa al-Ghalil, 3/283’: Hadith of Ibn Umar ‘Kisses are usury,’ I could not find the sanad.” Shaykh Saqqaf said: “This is outrageously wrong for surely this is mentioned in ‘Fatawa al-Shaykh ibn Taymiyya al-Misriyah (3/295)’: ‘Harb said Obaidullah ibn Mu’az said to us, my father said to me that Soayd from Jiballa who heard Ibn Umar (Allah be pleased with him) as saying: Kisses are usury.’ And these narrators are all authentic according to Ibn Taymiyya !”

No.10: (Hal.21 nr.2) Al-Albani dalam ‘Irwa Al-Ghalil, 3/283’ berkata; Hadits dari Ibn Umar

(Ciuman-ciuman adalah bunga yang tinggi [riba‘) Saya tidak menemukan sanadnya.

Syeikh Seggaf berkata:

Ini kesalahan yang sangat aneh ! Ini sudah ada didalam Fatwa Syeikh Ibn Taimiyya Al-Misriyah 3/295: ?Harb berkata bahwa Ubaidullah ibn Mu‟z berkata pada kita; ayah saya berkata bahwa Suaid dari Jiballa mendengar dari Ibn Umar ra berkata: „Ciuman-ciuman itu adalah (bunga?) yang tinggi „Dan perawi-perawi dapat dipercaya menurut Ibn Taimiyyah !

No.11: (* Pg. 21 no. 3 ) Hadith of Ibn Masood (Allah be pleased with him): “The Qur’an was sent down in 7 dialects. Everyone of its verses has an explicit and implicit meaning and every interdiction is learly defined.” Al-Albani stated in his checking of “Mishkat ul-Masabih, 1/80 no. 238” that the author of Mishkat concluded many Ahadith with the words “Narrated in Sharh us-Sunnah,”but when he examined the chapter on Ilm and in Fadail al-Qur’an he could not find it! Shaykh Saqqaf said: “The great scholar has spoken! Wrongly as usual. I wish to say to this fraud that if he is seriously interested in finding this Hadith we suggest he looks in the chapter entitled ‘Al-Khusama fi al-Qur’an’ from Sharh-us-Sunnah (1/262), and narrated by Ibn Hibban in his Shohih (no. 74), Abu Ya’ala in his Musnad (no.5403), Tahawi in Sharh al-Mushkil al-Athar (4/172), Bazzar (3/90 Kashf al-Asrar) and Haythami has mentioned it in Majmoo’a al-Zawaid (7/152) and he has ascribed it to Bazzar, Abu Ya’ala and Tabarani in al-Awsat who said that the narrators are

trustworthy.”

No.11: (Hal.21 nr.3) Hadits dari Ibn Mas‘ud ra : ‗l-Qur‘an diturunkan dalam tujuh (macam)

bahasa, setiap ayat ada yang jelas dan ada yang kurang jelas dan setiap larangan itu jelas ….(ada batasnya) ‗Al-Albani dalam Mishkat ul-Masabih, 1/80 nr. 238 menyatakan :

menurut penyelidikannya bahwa pengarang/penulis Mishkat memutuskan banyak hadits dengan kata-kata ?diceriterakan/diriwayatkan dalam Syarh As Sunnah? tapi waktu dia (Albani) menyelidiki bab masalah Ilmu dan Keutamaan Al-Qur‟n tidak menemukan hal itu !

Syeikh Seggaf berkata:

„lama yang paling pandai telah berbicara kesalahan yang sudah biasa.Dengan kebohongan itu saya ingin mengata= kan, bila dia benar-benar tertarik untuk menemukan ini hadits, kami mengusulkan agar dia melihat dalam bab yang berjudul ‘Al-Khusama fi Al-Qur’an van Sharh-us-Sunnah (1/262) dan diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam shohihnya nr. 74, Abu Ya‟a dalam Musnadnya nr. 5403, Tahawi dalam Sharh Al Mushkil Al-Athar 4/172, Bazzar dalam Kash Al-Asrar 3/90, Haitami telah

menyatakan dalam Majmu‟ Al-Zawaid 7/152 dan dia merujuk kepada Bazzar, Abu Ya‟a dan Tabrani dalam Al-Awsat yang berkata bahwa semua perawinya bisa dipercayai.

No.12: (* Pg. 22 no. 4 ) Al-Albani stated in his “Shohihah, 1/230” while he was commenting onHadith no. 149: “The believer is the one who does not fill his stomach. . . . The Hadith from Aisha as mentioned by Al-Mundhiri (3/237) and by Al-Hakim from Ibn Abbas, I (Albani) could not find it in Mustadrak al-Hakim after checking it in his ‘Thoughts’ section.” Shaykh Saqqaf said: “Please don’t encourage the public to fall into the void of ignorance which you have tumbled into! If you check Mustadrak al-Hakim (2/12) you will find it! This proves that you are unskilled at using book indexes and the memorization of Hadith!”

No.12: (hal.22 nr.4) Al-Albani berkata dalam Shahiha, 1/230 waktu dia memberi komentar

tentang hadits nr. 149

; ? Orang yang beriman ialah orang yang perutnya tidak kenyang… ?

hadits ini dari Aisyah yang disebutkan dalam Al-Mudhiri 3/237 dan Al-Hakim dari Ibn Abbas. Saya (Albani) tidak menemukan dalam Mustadrak Al-Hakim setelah penyelidikannya dan menurut pasal pikirannya.

Syeikh Seggaf berkata:

Tolong jangan berani menjatuhkan masyarakat kepada kebodohan yang sia-sia, yang mana engkau sudah terperosok didalamnya! Kalau engkau akan mencari dalam Mustadra Al-Hakim 2/12 maka dia akan engkau dapati ! Ini membuktikan bahwa engkau sendiri tidak ahli menggunakan buku index dan memberitakan dari Hadits.

No.13: (* Pg. 23 ) Another ridiculous assumption is made by al-Albani in his “Shohihah, 2/476″where he claims that the Hadith: “Abu Bakr is from me, holding the position of (my) hearing” is not in the book ‘Hilya’. We suggest you look in the book “Hilya , 4/73 !”

No.13: (Hal.23) Lebih menggelikan lagi dugaan yang dibuat oleh Al-Albani dalam Shohihah,

2/476 yang mana dia menyatakan bahwa hadits: ‗bu Bakar dari saya dan dia menempati posisi saya‘

tidak ada didalam „ilya‟. Saya usulkan agar anda melihat didalam “Hilya, 4/73 ” !

No.14: (*Pg. 23 no. 5 )Al-Albani said in his “Shohihah, 1/638 no. 365, 4th edition”: “Yahya ibn Malik has been ignored by the 6 main scholars of Hadith, for he was not mentioned in the books of Tahdhib, Taqreeb or Tadhhib.” Shaykh Saqqaf: “That is what you say! It is not like that, for surely he is mentioned in Tahdhib al-Tahdhib of Hafiz ibn Hajar al-Asqalani (12/19 Dar al-Fikr edition) by the nickname Abu Ayoob al-Maraagi!! So beware !

No.14 (Hal.23 nr. 5) Al-Albani dalam “Shohihah, 1/638 nr. 365, cet.ke 4” mengatakan :

Yahya Ibn Malik tidak dikenal/termasuk 6 ahli hadits karena dia ini tidak tercatat Tahdzib, Taqreeb dan Tadzhib. Syeikh Seggaf berkata: „tu menurut anda! Sebenarnya bukan begitu, nama julukannya ialah Abu Ayub Al-Maraagi dan ini ada didalam Tahdzib, Al-Tahdzib disebutkan oleh Hafiz ibn Hajar Al-Asqalani 12/19 cet.Dar Al-Fikr ! Hati-hatilah!

FURTHER EXAMPLES OF AL-ALBANI’S CONTRADICTIONS

MASIH BANYAK CONTOH KONTRADIKSI DARI AL-ALBANI !

No 15 : (* Pg. 7 )Al-Albani has criticized the Imam al-Muhaddith Abu’l Fadl Abdullah ibn al-Siddiq al-Ghimari (Rahimahullah) for mentioning in his book “al-Kanz al-Thameen” a Hadith from Abu Hurayra (Allah be pleased with him) with reference to the narrator Abu

Maymoona: “Spread salaam, feed the poor. . . .” Al-Albani said in “Silsilah al-Daeefa, 3/492”, after referring this Hadith to Imam Ahmad (2/295) and others: “I say this is a weak sanad, Daraqutni has said ‘Qatada from Abu Maymoona from Abu Hurayra: Unknown, and it is to be discarded.'” Al-Albani then said on the same page: “Notice, a

slapdash has happened with Suyuti and Munawi when they came across this Hadith, and I have also shown in a previous reference, no. 571, that al-Ghimari was also wrong for mentioning it in al-Kanz.” But in reality it is al-Albani who has become slapdashed, because he has made a big contradiction by using this same sanad in “Irwa al-Ghalil, 3/238” where he says, “Classified by Ahmad (2/295), al-Hakim . . . from Qatada from Abu Maymoona, and he is trusted as in the book ‘al-Taqreeb’, and Hakim said: ‘A Shohih sanad’, and al-Dhahabi agreed with Hakim! So, by Allah glance at this mistake! Who do you think is wrong, the Muhaddith al-Ghimari (also Suyuti and Munawi) or al-Albani?

No.15. (Hal.7) Al-Albani mengeritik Imam Al-Muhaddith Abu’l Fadl Abdullah ibn Al-Siddiq Al-Ghimari (Rahimahullah) waktu mengetengahkan hadits dari Abu Hurairah ra. dalam kitabnya Al-Kanz Al-Thameen yang bertalian dengan perawi Abu Maymuna ;‗ebarkan salam, beri makan orang-orang miskin..‘

‖Al-Albani berkata dalam Silsilah Al-Daifa, 3/492 setelah merujuk hadits ini pada Imam Ahmad2/295 dan lain-lain :

Saya berkata bahwa sanadnya lemah, Daraqutni juga berkata „atada dari Abu Maymoona dari Abu Hurairah tidak dikenal dan itu harus dikesampingkan ?. Al-Albani berkata pada halaman yang sama; „emberitahuan, pukulan bagi Suyuti dan Munawi, waktu mereka menemukan hadits ini, dan saya juga telah menunjuk kan dalam referensi yang lalu nr. 571 bahwa Al-Ghimari itu telah salah menyebutkan (hadits) itu dalam Al-kanz. Tetapi sebenarnya Al-Albani-lah yang terkena pukulan, sebab sangat bertentangan dengan perkataannya dalam Irwa Al-Ghalil, 3/238 yang meng gunakan sanad yang sama, katanya: ‗Diklasifikasikan oleh Ahmad (2/295), al-Hakim….dari Qatada dari Abu Maymuna dan orang mepercayainya sebagaimana yang disebutkan didalam buku Al-Taqreeb dan Hakim berkata; Sanad yang shohih dan Al-Dhahabi sepakat dengan Hakim !

Begitulah Allah langsung melihatkan kesalahan tersebut ! Sekarang siapa- kah yang selalu salah;Ahli hadits( Al-Ghimari, Suyuti, Munawi) atau Al-Albani ?

No 16 : (* Pg. 27 no. 3 ) Al-Albani wanted to weaken a Hadith which allowed women to wear golden jewellery, and in the sanad for that Hadith there is Muhammad ibn Imara. Al-Albani claimed that Abu Haatim said that this narrator was: “Not that strong,” see the book “Hayat al-Albani wa-Atharu. . . part 1, pg. 207.” The truth is that Abu Haatim al-Razi said in the book ‘al-Jarh wa-Taadeel, 8/45’: “A good narrator but not that strong. . .” So note that al-Albani has removed the phrase “A good narrator !” NB-(al-Albani has made many of the Hadith which forbid Gold to women to be Shohih, in fact other scholars have declared these Hadith to be daeef and abrogated by other Shohih Hadith which allow the wearing of gold by women. One of the well known Shaykh’s of the “Salafiyya” – Yusuf al-

Qardawi said in his book: ‘Islamic awakening between rejection and extremism, pg. 85: “In our own times, Shaykh Nasir al-Din al-Albani has come out with an opinion, different from the consensus on permitting women to adorn themselves with gold, which has been accepted by all madhahib for the last fourteen centuries. He not only believes that the isnad of these Ahadith is authentic, but that they have not been revoked. So, he believes, the Ahadith prohibit gold rings and earrings.” So who is the one who violates the ijma of the Ummah with his extreme opinions?!)

No 16 (Hal.27 nr. 3) Al-Albani mau melemahkan hadits yang membolehkan wanita memakai

perhiasan emas dan dalam sanad hadits itu ada Muhammad ibn Imara. Al-Albani menyatakan

bahwa Abu Haatim berkata perawi ini ? tidak kuat ?, lihat buku Hayat Al-Albani wa-Atharu ..jilid 1 hal.207.Yang benar ialah bahwa Abu Haatim Al-Razi dalam buku ‘Al-Jarh wa-Taadeel, 8/45 berkata: ―erawi yang baik tapi tidak sangat kuat….‖Jadi lihat pada catatan Al-Albani bahwa kalimat ?Perawi yang baik ? dibuang !

NotaBene: Al-Albani telah membuat/menulis banyak hadits yang menyata- kan larangan emas (dipakai) untuk wanita menjadi Shohih, padahal kenyataannya para Ulama lain menyatakan haditshadits ini lemah dan berlawanan dengan hadits Shohih yang memperbolehkan pemakaian (perhiasan) emas oleh kaum wanita. Salah seorang Syeikh ‗alafiah‘ terkenal, Yusuf Al-Qardawi berkata dalam bukunya Islamic awakening between rejection and extremism, halaman 85 : ―alam zaman kita sendiri Syeikh Nasir al-Din telah muncul dengan suatu pendapat yang bertentangan dengan kesepakatan tentang pembolehan wanita-wanita menghias diri mereka dengan emas,yang telah diterima/ disetujui oleh semua madzhab selama empat belas abad terakhir. Dia tidak hanya mempercayai bahwa sanad dari hadits-hadits ini dapat dipercaya, tapi bahwa hadits-hadits ini belum dicabut/dihapus. Maka dia percaya hadits-hadits tersebut melarang cincin dan anting anting emas ― Lalu siapa yang merusak kesepakatan (ijma‘) ummat dengan pendapatpendapatnya

yang ekstrem ?

No 17: (* Pg. 37 no. 1 )Hadith: Mahmood ibn Lubayd said, “Allah’s Messenger (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) was informed about a man who had divorced his wife 3 times (in one sitting),so he stood up angrily and said: ‘Is he playing with Allah’s book whilst I am still amongst you?’Which made a man stand up and say, ‘O Allah’s Messenger, shall I not kill him?'” (al-Nisai). Al-Albani declared this Hadith to be Daeef in his checking of “Mishkat al-Masabih, 2/981, 3rd edition,Beirut, 1405 A.H; Maktab al-Islami”, where he says: “This man (the narrator) is reliable, but theisnad is broken or incomplete for he did not hear it directly from his father.” Al-Albani then contradicts himself in the book “Ghayatul Maram Takhreej Ahadith al-Halal wal Haram, no. 261, pg.164, 3rd Edn, Maktab al-Islami, 1405 A.H”; by saying it is SHOHIH!!!

No 17 (Hal. 37 nr. 1) Hadits : Mahmud ibn Lubayd berkata; ‗asulallah saw. telah diberitahu

mengenai seorang yang telah mencerai isterinya 3x dalam satu waktu, oleh karena itu dia berdiri dengan marah dan berkata; ‗pakah dia bermain-main dengan Kitabullah, sedangkan aku masih berada dilingkungan engkau ? Yang mana berdiri seorang untuk berkata ; Wahai Rasulallah,apakah dia tidak saya bunuh saja ? (Al-Nisa‘i).

Al-Albani menyatakan

hadits ini lemah menurut penyelidikannya dari kitab „ishkat Al-Masabih 2/981 cet.ketiga, Beirut 1405 A.H. de Maktab Al-Islami „yang mengatakan ? Perawinya bisa dipercaya tapi isnadnya terputus atau tidak komplit, karena dia tidak mendengar langsung dari ayahnya?. Al-Albani berkata berlawanan dengan dirinya sendiri dalam buku Ghayatul Maram Takhreej Ahadith Al-Halal wal-Haram, nr. 261, hal. 164, cet.ketiga Maktab Al-Islami, 1405 A.H“telah mengatakan bahwa hadits itu Shohih !!

No 18 : (* Pg. 37 no. 2)Hadith: “If one of you was sleeping under the sun, and the shadow covering him shrank, and part of him was in the shadow and the other part of him was in the sun, he should rise up.” Al-Albani declared this Hadith to be SHOHIH in “Shohih al-Jami al-Sagheer wa Ziyadatuh (1/266/761)”, but then contradicts himself by saying it is DAEEF in his checking of “Mishkat ul-Masabih, 3/1337 no. 4725, 3rd Ed” and he has referred it to the Sunan of Abu Dawood!”

No 18 (Hal.37 nr.2) Hadits; ―ila salah satu dari engkau tidur dibawah sinar matahari dan bentuk naungan telah menutupinya dan sebagian darinya didalam naungan dan sebagiannya lagi dibawah sinar matahari, maka dia harus bangun‖.

Al-Albani menyatakan hadits ini shohih dalam Shohih Al-Jami Al-Sagheer wa Ziyadatuh (1/266/761) tapi perkataannya berlawanan dengannya karena mengatakan hadits ini lemah dalam penyelidikannya dari Mishkat ul-Masabih 3/1337 nr.4725 cet.ketiga dan dia merujuk hadits ini pada Sunan Abu Daud.

No 19 : (* Pg. 38 no. 3 )Hadith: “The Friday prayer is obligatory on every Muslim.” Al-Albani rated this Hadith to be DAEEF in his checking of “Mishkat al-Masabih, 1/434”, and said: “Its narrators are reliable but it is discontinuous as is indicated by Abu Dawood”. He then contradicts himself in “Irwa al-Ghalil, 3/54 no. 592”, and says it is SHOHIH!!! So beware o wise men!

No. 19 (Hal.38 nr. 3) Hadits : ―holat Jum‘at itu wajib bagi setiap Muslim‖

Al-Albani menganggap hadits ini lemah dalam penyelidikannya dari De Mishkat Al-Masabih, 1/434 dan katanya; Perawi dari hadits ini bisa dipercaya, tetapi terputus sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Daud. Kalau begitu dia bertentangan dengan perkataannya dalam‘ Irwa Al-Ghalil 3/54 nr. 592‘ dan mengatakan hadits ini Shohih ! Hati-hatilah sedikit, wahai orang bijaksana !

No 20 : (* Pg. 38 no. 4 ) Al-Albani has made another contradiction. He has trusted Al-Muharrar ibn Abu Hurayra in one place and then weakened him in another. Al-Albani certifies in “Irwa al-Ghalil,4/301” that Muharrar is a trustee with Allah’s help, and Hafiz (Ibn Hajar) saying about him “accepted”, is not accepted, and therefore the sanad is Shohih. He then contradicts himself in “Shohihah 4/156” where he makes the anad DAEEF by saying: “The narrators in the sanad are all Bukhari’s (i.e.; used by Imam al-Bukhari) men, except for al-Muharrar who is one of the men of Nisai and Ibn Majah only. He was not trusted accept by Ibn Hibban, and that’s why al-Hafiz IbnHajar did not trust him, Instead he only said ‘accepted!'” So beware of this fraud!

No.20 (Hal. 38 nr. 4). Al-Albani membuat lagi kontradiksi. Dia disatu tempat mempercayai Al-Muharrar ibn Abu Huraira kemudian ditempat lain dia melemahkannya. Al-Albani menerangkan dalam Irwa Al-Ghalil 4/301 bahwa Al-Muharrar dengan bantuan Allah seorang yang dapat dipercayai dan Hafiz (Ibnu Hajar) berkata mengenai dia

?dapat diterima?, tidak dapat diterima, dan oleh karenanya sanadnya Shohih.Maka dia (Albani) berlawanan dengan omongannya dalam Shohihah 4/156 yang mana dia melemahkan sanad sambil mengatakan: ‗erawi-perawi dalam sanad ialah semua orang-orang didalam Bukhori (lain kata orang-orang yang dicantumkan oleh Imam Bukhori) kecuali Al-Muharrar dia hanya salah satu dari orang-orang Nasa‘i dan Ibn Majah . Dia tidak dipercaya oleh Ibn Hibban dan oleh karenanya Al Hafiz Ibn Hajar tidak mempercayainya, daripada itu dia hanya mengatakan ―apat diterima‖.Hatilah-hatilah dari kebohongan !

No 21 : (* Pg. 39 no. 5 ) Hadith: Abdallah ibn Amr (Allah be pleased with him): “The Friday prayer is incumbent on whoever heard the call” (Abu Dawood). Al-Albani stated that this Hadith was HASAN in “Irwa al-Ghalil 3/58”, he then contradicts himself by saying it is DAEEF in “Mishkatul Masabih 1/434 no 1375”!!!

No.21 (Hal. 39 nr. 5) Hadits: Abdullah ibn Amr ra. ―Sholat Jumat wajib bagi orang yang Sudah mendengar panggilan (adzan)‖(Abu Daud).

Al-Albani menyatakan hadits ini Hasan

dalam ―rwa Al-Ghalil 3/58‖ dan dia berlawanan dengan perkataannya yang menyatakan

hadits ini lemah dalam Mishkatul Masabih 1/434 nr. 1375 !

No 22 : (* Pg. 39 no. 6 ) Hadith: Anas ibn Malik (Allah be pleased with him) said that the Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) used to say : “Do not be hard on yourself, otherwise Allah will be hard on you. When a people were hard on themselves, then Allah was hard on them.” (Abu Dawood) Al-Albani stated that this Hadith was DAEEF in his checking of “Mishkat, 1/64”, but he then contradicts himself by saying that this Hadith is HASAN in “Ghayatul Maram, pg. 141”!!

No.22 (Hal. 39 nr. 6) Hadits : Anas ibn Malik ra. berkata bahwa Rasulallah saw. telah bersabda:―anganlah keras terhadap dirimu, dengan demikian Allah juga akan keras terhadapmu, bilamana manusia keras terhadap dirinya maka Allah akan keras juga terhadap mereka‖ (Abu Daud).

Al-Albani menurut penyelidikannya di Mishkat 1/64, mengatakan bahwa hadits ini lemah. Tapi dia lalu berlawanan dengan perkataannya di “Ghayatul Maram, hal. 141 bahwa hadits ini Hasan !!

No 23: (* Pg. 40 no. 7 ) Hadith of Sayyida Aisha (Allah be pleased with her): “Whoever tells you that the Prophet (Peace be upon him) used to urinate while standing, do not believe him. He never urinated unless he was sitting.” (Ahmad, Nisai and Tirmidhi ) Al-Albani said that this sanad was DAEEF in “Mishkat 1/117.” He then contradicts himself by saying it is SHOHIH in “Silsilat al-Ahadith al-Shohihah 1/345 no. 201”!!! So take a glance dear reader!

No.23 (Hal.40 nr. 7) Hadits dari ‗isyah ra : ―iapapun yang mengatakan bahwa Rasulallah saw biasa kencing dengan berdiri, janganlah dipercayai. Beliau tidak pernah kencing kecuali dengan duduk‖(Ahmad,Nasa‘i dan Tirmidzi).

Al-Albani dalam Mishkat 1/117 mengatakan sanad hadits ini lemah. Dia bertentangan dengan perkataannya sendiri di ?Silsilat Al-Ahadits al-Shohihah 1/345 nr.201?bahwa hadits ini Shohih !

No 24 : (* Pg. 40 no. 8 ) Hadith “There are three which the angels will never approach: The corpse of a disbeliever, a man who wears ladies perfume, and one who has had sex until he performs ablution” (Abu Dawood). Al-Albani corrected this Hadith in “Shohih al-Jami al-Sagheer wa Ziyadatuh, 3/71 no. 3056” by saying it was HASAN in the checking of “Al-Targhib 1/91” [Also said to be Hasan in the English translation of ‘The Etiquettes of Marriage and Wedding, pg. 11]. He then makes an obvious contradiction by saying that the same Hadith was DAEEF in his checking of “Mishkatul-Masabih, 1/144 no. 464” and says that the narrators are trustworthy but the chain is broken between Al-Hasan al-Basri and Ammar (Allah be pleased with him) as al-Mundhiri had said in al-Targhib (1/91) !!

No.24 (Hal.40 nr.8) Hadits : ―iga macam orang yang malaikat tidak mau mendekatinya : Mayit orang kafir, lelaki yang memakai minyak wangi wanita dan orang yang telah berhubungan sex (junub) sampai dia bersuci ‖(Abu Daud).

Al-Albani telah membenarkan hadits ini dalam Shohih Al-Jami Al-Sagheer wa Ziyadatuh 3/71 nr. 3056 dengan mengatakan hadits itu Hasan dalam

penyelidikan dari Al-Targhib 1/91 (juga mengatakan Hasan dalam Terjemahannya kedalam

bahasa Inggris ―he Etiquettes of Marriage and Wedding, page 11

). Dia membuat kontradiksi yang nyata dalam penyelidikannya dalam Mishkatul-Masabih 1/144 nr. 464 mengatakan hadits yang sama ini Lemah, dan dia berkata bahwa perawi-perawinya patut di- percaya tapi rantai sanadnya terputus antara Hasan Basri dan Ammar sebagaimana yang disebutkan juga oleh Al-Mundhiri dalam Al-Targhib 1/91 !!

No 25 : (* Pg. 42 no. 10 ) It reached Malik (Rahimahullah) that Ibn Abbas (Allah be pleased

with him) used to shorten his prayer, in distances such as between Makkah and Ta’if or between Makkah and Usfan or between Makkah and Jeddah. . . . Al-Albani has weakened it in “Mishkat,1/426 no. 1351”, and then contradicts himself by saying it is SHOHIH in “Irwa al-Ghalil, 3/14”!!

No.25 (Hal. 42 nr. 10) Telah sampai (riwayat) dari Malik rh ―ahwa Ibn Abbas ra. Biasa menyingkat (menggashor) sholatnya dalam jarak antara Makkah dan Ta‘if atau antara Makkah dan Usfan atau antara Makkah dan Jeddah…..? Al-Albani telah melemahkannya dalam Mishkat, 1/426nr.1351, dan dia bertentangan dengan perkataannya di Irwa al-Ghalil 3/14 yang mengatakan ini Shahih !

No 26 : (* Pg. 43 no. 12 ) Hadith: “Leave the Ethiopians as long as they leave you, because no one takes out the treasure of the Ka’ba except the one with the two weak legs from Ethiopia.” Al-Albani has weakened this Hadith in his checking of “Mishkat 3/1495 no. 5429” by saying: “The sanad is DAEEF.” But then he contradicts himself as is his habit, by correcting it in “Shohihah, 2/415 no. 772.”

No. 26. (Hal.43 nr.12) Hadits : ―inggalkan orang-orang Ethiopia selama mereka

meninggalkanmu, sebab tidak ada orang yang mengambil barang berharga dari Ka‘bah kecuali seorang Ethopia yang dua kakinya lemah‖. Al-Albani dalam penyelidikannya di Mishkat 3/1495 nr.5429 mengatakan sanadnya Lemah.

Tapi sebagaimana biasa dia bertentangan dengan perkataannya dengan mengatakan ini Sahih dalam Shahihah 2/415 nr. 772 !

ini hanya skedar Contoh Sipat dan tingkah Laku Albani yang dibanggakan Golongan Wahabi Syeikhul Islam Ibn Al-Qoyyim Al-Jawziyah berkata dalam I‘lamu Al-Muwaqqi‘in juz Ihal. 44, dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata: ‖ika seseorang memiliki kitab karangan yang didalamnya termuat sabda Nabi saw. perbedaan sahabat dan tabi‘in, maka ia tidak boleh mengamalkan dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum menanyakannya pada Ahli Ilmu, mana yang dapat diamalkan dan mana yang tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat meng- amalkan dengan benar‖Sungguh Jika kita perhatikan Golongan wahabi ini ibarat muka dua.disisi lain mereka sangat keras jika apa yang mereka kehendaki tidak tercapai..namun disisi lain mereka secara halus menyesatkan Umat Muslim dari dalam tubuh Islam.Andaikata ini tidak berhasil maka ujung ujngnya mereka mengkafirkan semua org yang tak sejalan dgn mereka.

DINASTI SAUD PENDUKUNG WAHABI Dibawah Panji panji Ajaran wahabi seperti dijelaskan diatas,maka penguasa arab yang notanbenanya Trah Yahudi dgn mudah melaksanakan aksi membunuh orang-orang Muslim yang tidak berdosa dan merampas harta benda mereka, pedoman yang sering mereka kumandangkan ialah: “Masuklah ke dalam ajaran Wahabi. Dan jika tidak, niscaya Anda terbunuh, istri Anda menjadi janda, dan anak Anda menjadi yatim?

Ajaran dan doktrinnya memberikan kuasa kepada Keluarga Saudi untuk membumi hanguskan kampung-kampung mereka. Mereka membunuh para suami dan anak-anak, merampas para istri, menikam perut wanita hamil,memotong tangan anak mereka dan kemudian membakar mereka!! Ditambah justifikasi doktrin faham wahabi bagi mereka untuk seenak pusernya sendiri membajak danmerampas harta penentang mereka.Keluarga Yahudi ini telah melakukan banyak kezaliman dibawah panji ajaran Wahabi yang dicipta oleh Mordakhai untuk menyemai benih kekejaman di hati manusia. Dinasti Yahudi telah melakukan aksi kebiadaban sejak 1163 H .Sampai-sampai mereka telah menamakan semenanjung tanah Arab dengan nama keluarga mereka (Arab Saudi)

sebagai sebuah negara kepunyaan mereka ,dan semua penduduk Arab adalah hamba mereka, bekerja keras untuk kemewahan mereka (Keluarga Saudi).Mereka telah menghak milikkan semua kekayaan negara tersebut sebagai harta pribadi. Jika ada yang berani mengkritik undang-undang dan peraturan buatan ―ezim tangan besi‖Dinasti Yahudi tersebut, pihak penguasa tak segan-segan memenggal kepala pengkritik di depan khalayak. Disebutkan bahwa salah seorang puteri mereka melewati masa liburnya dengan plesiran ke Florida, Amerika Serikat bersama para pembantu dan penasihatnya. Dia

menyewa 90 kamar mewah (suite) di Grand Hotel dengan tariff satu juta dolar per malam!!! Rakyat yang mencoba bersuara memprotes lawatan sang puteri yang jelas-jelas menghamburkan uang Negara akan di tembak mati dan dipenggal kepalanya!!

Fakta Menggemparkan

Sejumlah kesaksian yang meyakinkan bahwa Keluarga Saud merupakan keturunan Yahudi, dapat dibuktikan melalui fakta-fakta berikut ini :

Pada tahun 1960-an, pemancar radio

?Sawtul Arab? di Kairo, Mesir, dan pemancar radio di Sana‘a, Yaman, membuktikan bahwa nenek moyang Keluarga Saudi adalah dari trah Yahudi Raja Faisal Al-Saud tidak bisa menyanggah bahwa keluarganya adalah keluarga Yahudi ketika memberitahukan kepada The WashingtonPost pada tanggal 17 September 1969, dengan menyatakan bahwa:

“Kami, Keluarga Saudi adalah keluarga Yahudi. Kami sepenuhnya tidak setuju dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhannya kepada Yahudi, sebaliknya kita harus tinggal bersama mereka dengan damai. Negeri kami, Saudi Arabia merupakan sumber awal Yahudi (Keturunan Yahudi Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe) dan nenek-moyangnya, dari sana menyebar ke seluruh dunia”.Pernyataan ini keluar dari lisan Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz. Perhatikan Nama SAUD seolah kependekan dari SAU DAN YAHUDI Arabia !

Hafez Wahbi

, Penasihat Hukum Keluarga Kerajaan Saudi menyebutkan di dalam bukunya yang berjudul ‗Semenanjung Arabia‟bahwa Raja Abdul Aziz yang mati tahun 1953 mengatakan:

?Pesan Kami (Pesan Saudi) dalam menghadapi oposisi dari suku-suku Arab, kakekku, Saud Awal, menceriterakan saat menawan sejumlah Syaiikh dari suku Mathir, dan ketika kelompok lain dari

suku yang sama datang untuk menengahi dan meminta membebaskan semua tawanannya. Saud Awal memberikan perintah kepada orangorangnya untuk memenggal kepala semua tawanannya, kemudian mempermalukan dan menurunkan nyali para penengah dengan cara mengundang mereka ke jamuan makan. Makanan yang dihidangkan adalah daging manusiayang sudah dimasak, potongan kepala tawanan diletakkan di atas piring.? Lihat Buku ? Semenajung Arabia?.

Para penengah menjadi terkejut dan menolak untuk makan daging saudara mereka sendiri. Karena mereka menolak untuk memakannya, Saud Awal memerintahkan memenggal kepala mereka juga. Itulah kejahatan yang sangat mengerikan yang telah dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya sendiri sebagai raja kepada rakyat yang tidak berdosa, kesalahan mereka karena menentang terhadap kebengisannya dan memerintah dengan sewenang-wenang.

Hafez Wahbi

selanjutnya melanjutkan ceritanya : ? berkaitan dengan kisah nyata berdarah yang menimpa Shyaikh suku Mathir, dan sekelompok suku Mathir yang mengunjunginya dalam rangka meminta pembebasan pimpinan mereka yang menjadi tawanan Raja Abdul Aziz Al-Saud bernama Faisal Al-Darwis. Diceriterakannya kisah itu kepada utusan suku Mathir dengan maksud mencegah agar mereka tidak meminta pembebasan pimpinan mereka, bila tidak,mereka akan diperlakukan sama. Dia bunuh Syaikh Faisal Darwis dan darahnya dipakai untuk berwudlu sebelum dia shalat.

Kesalahan Faisal Darwis waktu itu hanya karena dia mengeritik Raja Abul Aziz Al-Saud. Ketika raja menandatangani dokumen yang disiapkan penguasa Inggris pada tahun 1922 sebagai pernyataan memberikan Palestina kepada Yahudi, tandatangannya dibubuhkan dalam sebuah konferensi di Al-Qir tahun 1922.? Lihat Buku ? Semenajung Arabia?

―Sistem rejim Keluarga Yahudi (Keluarga Saudi) dulu dan sekarang masih tetap sama. Tjuannya, untuk merampas kekayaan negara, merampok, memalsukan, melakukan semua jenis kekejaman, ketidakadilan, penghujatan dan penghinaan, yang kesemuanya itu dilaksanakan sesuai dengan ajaran SekteWahhabi yang membolehkan memenggal kepala orang yang menentang ajarannya

.Lihat ?Aly Sa‟d, Min Aina? wa Ilaina?? yang ditulis oleh Almarhum Muhammad Sakher). Untuk mengakhiri kajian kita ini, agar kita tidak menafsirkan sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya: Artinya : ‖kan datang nanti suatu masa yang penuh dengan penipuan hingga pada masa itu para pendusta dibenarkan, orang-orang yang jujur didustakan; para pengkhianat dipercaya dan orang-orang yang amanah dianggap khianat, serta bercelotehnya para ‗uwaibidhoh‘. Ada yang bertanya: ‗pa itu ‗uwaibidhoh‘? Beliau saw. menjawab: ‖rang bodoh pandir yang berkomentar tentang perkara orang banyak‖(HR. Al-Hakim jilid 4 hal. 512 No. 8439 — ia menyatakan bahwa hadits ini shohih; HR. Ibn Majah jilid 2 hal. 1339 no. 4036; HR. Ahmad jilid 2 hal. 219, 338 No. 7899,8440; HR. Abi Ya‘la jilid 6 hal. 378 no. 3715; HR. Ath-Thabrani jilid 18 hal. 67 No. 123; HR. Al-Haitsami jilid 7 hal 284 dalam Majma‘ Zawa‘id Wallahu a‟am bis shawab. By Von Edison Alouisci. Baturaja.Indonesiaa 18 juni 2012 (Silahkan perbanyak dan mohon kiranya tetap mencantumkan sumbernya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s